Monday, 5 August 2013

Galau

"Aku harus kuat, aku harus bisa ngejalanin ini semua. Aku bukan cowok lemah yang bisa seenaknya saja bisa dipermainkan hatinya. Aku gak mau ditindas seperti ini. Aku benar-benar harus meminta penjelasan padanya"

Berulang kali kata kata itu ku tekankan dalam batinku. Setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang dibincangkan orang orang tentang perbuatan pacarku di belakangku. Aku sakit. Aku remuk. Aku galau.

Perkenalkan, namaku Dimas. Aku sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA. Aku memiliki kekasih, Via namanya, dan aku telah menjalani hubungan dengannya kurang lebih selama 2th terakhir ini. Hubungan kita sebelumnya berjalan sangat baik hingga terdengar berita sumbang bahwa Via menduakanku. Sahabatku, Aro  mengatakan padaku bahwa Via tengah menjalani hubungan dengan seorang mahasiswa.

Awalnya aku sama sekali tak percaya akan hal itu, aku bersikukuh percaya pada Via yang katanya benar benar tak melakukan ini. Aku sering menanyakan kepadanya tentang kebenaran berita ini. Mungkin Via jera atau bagaimana mendengar pertanyaanku yang itu itu saja keluar dari mulutku, hingga akhirnya kami sering bertengkar dan nyaris mengakhiri hubungan kami yang telah lama berjalan ini.

Aku selalu percaya akan segala hal yang Via katakan padaku. Kata orang kepercayaan itu hal yang penting dalam menjalani sebuah hubungan. Dan aku selalu percaya percaya percaya dan percaya. Hingga akhirnya sekarang, saat ini, tepat di depan mataku, di cafe depan sekolah aku melihat fakta yang selama ini tak aku yakini kebenarannya. Dan sekarang aku benar-benar yakin.

Via, gadis yang selama ini mengisi relung hatiku. Tempat aku berbagi keluh kesah. Sosok yang selalu aku rindukan dan aku inginkan selalu hadir dalam hari-hariku. Tengah berjalan, bergandengan dengan pria yang dari style-nya aku tahu dia lebih tua dariku.

Sungguh, ingin rasanya aku berjalan ke arahnya sekarang juga dan menghantam pria hidung belang perebut cewek orang itu. Tapi...

"Woles, man! Elo musti sabar, biarin aja Via sama cowok itu sekarang. Ntar aja lo kelarin semua sama Via", Aro mencoba menahanku. Tapi semua ini sungguh menyiksa batinku. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan orang yang aku sayang i bermesraan dengan orang lain? Ini gila.

"Maaf ya Ro, selama ini gue gak pernah percaya sama lo. Gue ngerasa bodoh banget sekarang"

"Ah lo tuh emang gampang dibegoin sama cewek Dim, pacaran sih pacaran, tapi jangan overlove dong. Sekarang apa coba hasilnya? Sakit sendiri kan lo?",cerca Aro padaku.

Yah, Aro benar. Aku memang terlalu mencintai Via. Dan menganggap dia adalah yang terbaik bagiku. Sebelumnya Via memang cewek manis, sopan sama Papa Mama aku. Bahkan dia juga terlihat sangat sayang sama adikku. Aku sendiri tak tahu apa yang telah merubahnya. Padahal aku selalu perhatian, sejak awal jadian hingga sekarang pun masih sama.

"Apa dia udah bosen kali ya Ro sama gue?"

"Bisa jadi sih, lo kan terlalu sayang sama dia. Cewek kalo udah ngerasa pacaran gak ada tantangannya kan suka bosen"

Sumpah, tertegun aku ngedenger omongannya si Aro.

"Gue kurang gimana cobak? Ganteng? Pinter? Tajir? Pengertian? Bukannya gue punya semuanya?", ucapku semakin tak karuan. Aku benar benar merasa frustasi. Haaaaaaah. Ingin rasanya kuteriakkan segala kekecewaan yang ada dalam benakku.

----------

Malamnya, aku mencoba menghubungi Via. Aku menelponnya, dan aku katakan padanya aku akan ke rumahnya dengan atau tanpa ijinnya aku akan kesana.

"Mau ngapain sih kerumahku? Tadi kan kita udah ketemu seharian, BBM-an terus, ini juga udah telfon? Masih mau kesini jugak?"

Terbaca olehku, gelagat yang tak biasa padanya. Tidak biasanya dia menahanku untuk berkunjung ke rumahnya. Hingga terpikir olehku, pasti kekasihnya si mahasiswa itu juga datang kesana. Aku pun semakin bersemangat untuk pergi kerumah Via. Segera kuakhiri pembicaraanku dengan Via, dan aku bilang padanya aku tak jadi kerumahnya.

Tentu saja aku berbohong, aku langsung mencari jaket dan mengambil kunci motorku. Mengeluarkannya dari garasi dan segera kerumah Via.


----------

Sesampainya dirumah Via, aku sedikit curiga. Ada Jazz putih terparkir dihalamannya, aku tidak ingat Via memiliki mobil ini. Dan ternyata kecurigaanku benar, kulihat dari jendela lelaki yang tadi siang aku lihat bersama Via sedang bersamanya, bersama Mama Via juga. Aku tetap memberanikan diri mengetuk pintu.

Mama Via menyambutku dengan hangat. Sama seperti biasanya. Tapi tidak ada pertanyaan yang selalu beliau lontarkan setiap aku datang. Mau ketemu Via ya?

Sekarang pertanyaan itu berganti menjadi,"Dimas mau ngapain main kesini? Ada perlu sama Via ya?"

"Kok tante nanyanya gitu sih? Ya pasti mau ketemu Via dong. Pacar Dimas kan Via"

"Loh bukannya kalian udah putus?", tanya Mama Via. Sontak pertanyaan itu membuat jantungku berdesir ria. Aku benar benar kalut, bisa bisanya Via cerita sama mamanya kalau kita sudah putus. Padahal hubungan kita masih berjalan baik.

"Dim, kenapa diem? Mari masuk. Via ada di dalem kok, sama temennya"

Aku mengikuti Mama Via masuk kedalam, dan kulihat Via sedang bercanda gurau dengan cowok yang tadi siang. Sepertinya Via tidak kaget melihat kedatanganku, dia memberiku senyuman yang seakan merendahkan martabatku.

"Hallo Dim, kenalin ini pacar aku, Rival"

Dengan bangga dia memperkenalkan lelaki itu, tanpa peduli status yang terpaut diantara kita. Brengsek. Geram. Jengkel aku dibuatnya. Lelaki itu mengulurkan tangannya padaku mengajakku berkenalan, dan sama sekali tak kuhiraukan.

"Baru aku sadari hari ini Vi, kalau lo tuh ternyata cewek yang gak punya hati. Makasih atas dua tahun luar biasa selama ini. Makasih buat penghianatan kamu. Makasih kamu gak pernah mutusin aku, tapi pacaran sama dia, makasih, gue balik dulu"

Aku mengucapkan kata kata itu dalam keadaan emosi luar biasa, Mama Via menatapku pilu. Aku langsung berjalan keluar, dan ada seseorang mengikutiku. "Dim", panggilnya. Aku menoleh, dan ternyata Mama Via yang mengikutiku.

"Maaf tante gak tau kalau kamu belum putus sama Via, Via cerita kalau kalian udah putus, karena kamu nyelingkuhin dia"

"Ya ampun tante, aku sayang banget sama Via. Mana mungkin aku tega ngelakuin itu?"

"Tapi Via bilang...."

Aku memotong pembicaraan, "Tan, Dimas bener bener gak ngerti apa maksud Via. Hubungan kita berjalan baik, dan Dimas gak pernah ngelakuin kesalahan apapun. Dimas gak ngerti tan, kenapa Via menduakan Dimas. Dimas gak tahu juga kenapa Via bisa jadi macam ini sekarang, sepertinya ada yang salah sama anak Tante"

"Maafin Via ya Dim"

"Dimas gak tahu Tan, bisa maafin Via atau enggak. Ini terlalu menyakitkan buat Dimas, maafin Dimas ya Tante. Dimas gak bisa jagain Via"

"Kamu gak salah Dim, Tante minta maaf banget atas nama Via"

"Tante gak seharusnya munta maaf sama Dimas, Via aja gak ngerasa bersalah kok sama Dimas, mungkin ini memang udah garis hidup Dimas. Dikhianatin sama anak Tante. Dimas pamit Tante, selamat malam"

"Hati hati ya Dim"

Aku berlalu dengan begitu cepat, ku jalankan motorku dengan kecepatan 80km/jam. Cukup kencang untuk ukuran motor bebek yang aku gunakan. Aku frustasi. Semua obrolan tadi begitu stuck di pikiranku, menggema tak beraturan.

Aku arahkan motorku ke taman. Aku ingin merenung dan mencerna keadaan hidupku sekarang. Aku berteriak kencang "AAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
Hingga banyak orang menatapku. Mungkin mereka mengira aku menderita kelainan jiwa atau apa. Mungkin itu yang sedang jiwaku rasakan sekarang. Gila. Aku benar benar galau.

No comments:

Post a Comment