Thursday, 15 August 2013

Interlude of Love #part 1




INTERLUDE OF LOVE #PART 1
Pengarang : Aku (Indah Melisiam)
Genre : Love story (drama)
Cast : 
Marsya Careninna
Damar Anggoro
Reno Adriano
Toddy Alfiansyah
etc

 Masya's Views

(Tik tok tik tok tik tok)

Kupandangi jam dinding yang ada di sudut kafe. Jam itu berdetik sangat pelan, sangat lambat, sangat lama. Mengiringi kesendirianku yang sedang menunggu seseorang.

Kubuka ponselku berulang kali. Berulang kali pula ku mengirim pesan, dan sama sekali tak ada balasan. Berulang kali pula aku mencoba membuat panggilan, tak ada jawaban.

'Kamu dimana sih, Ren?',gerutuku dalam hati. Kesal juga rasanya aku, sudah hampir satu jam aku menunggu dan sama sekali tak ada tanda-tanda kehadirannya. Mungkin dia lupa kalau ada janji dengan ku. Atau dia sedang sibuk dan tak sempat memberiku kabar? Entah.

Begitu banyak pertanyaan yang berlalu lalang di otakku. Seperti banyaknya kendaraan yang melewati jalan tol Jakarta-Merak. Hah. Sepertinya hanya fikiran ini yang setia menemaniku sembari aku mengaduk-aduk Capucinno yang telah kupesan, yang belum tersentuh bibirku untuk kuminum.

Sampai kapan aku akan terus disini? Akankah dia datang menemuiku seperti apa yang sudah ia janjikan?

Semenit.

Lima menit.

Setengah jam.

Satu jam.

Oke baiklah. Sudah dua jam aku disini dan dia sama sekali tak memberiku kepastian. Jelas aku geram, jelas aku jengkel. Bukan masalah jika dia tak menemuiku, tapi kenapa dia tak memberiku kabar. Itu yang sangat aku sayangkan.

Ah sudahlah!

Kubuka kembali ponselku, dan aku membuat panggilan kembali. Tapi kali ini bukan untuk Reno. Ini untuk sahabatku, yang mungkin akan dapat mengobati rasa kecewaku.

Tuut... Tuuuttt.. Tuut...

'Hallo, kenapa Sya?',ucapnya diseberang sana.

'Lo dimana? Belum pulang kan?'

'Belum kok, masih di hall nih, kenapa?'

'Pulang bareng ya?'

'Hlah lo dimana?'

'Di kafe depan sekolah, gue tunggu lo di halte depan ya?'

'Oke'

Panggilan selesai. Aku berjalan menuju kasir untuk membayar Capucinno yang tak tersentuh tadi. Kulanjutkan langkahku keluar kafe, kulayangkan pandanganku kekiri dan kekanan mengamati keadaan sepanjang jalan, masih berharap Reno akan datang. Aku pasrah.

Ku berjalan menuju halte, tempat yang telah ku janjikan untuk menunggu sahabatku, Damar. Dan lagi lagi aku harus menunggu.

'Hey, kenapa lo?',sapa Damar, yang sontak membuyarkan lamunanku.

'Gapapa kok', jawabku sambil tersenyum, mencoba meyakinkan dia bahwa aku baik baik saja.

'Yakin nih?'

Aku mengangguk dan tersenyum lebih lebar. Dia pun ikut tersenyum, itu tandanya aku berhasil meyakinkan dia bahwa aku baik baik saja.

'Jadi ini kita mau kemana?',sambungnya.

'Lah, emang mau kemana kita?'

'Jalan mungkin? Hehe'

'Enggak ah, gue capek banget Mar. Langsung pulang aja ya?'

'Oke', jawabnya singkat.

Aku tahu ada rasa kecewa yang tersembunyi dalam nada bicara Damar. Kami berteman sudah sepuluh terahir ini. Sejak aku dan keluargaku menempati rumah yang ada disamping rumahnya. Kami pun selalu satu sekolah, dari SD, SMP dan SMA. Jadi aku cukup tahu kapan Damar merasa senang, sedih, marah dan kecewa.

Dulu kemana mana kita selalu berdua. Hingga banyak yang mengira aku dan Damar itu pacaran. Banyak yang bilang kalau kita ini pasangan serasi. Aku akui sih, Damar emang ganteng. Dan gak sedikit kok cewek yang menaruh hati ke dia.

Pernah dulu pas awal masuk SMA ada perempuan menghampiriku, ia berkata bahwa ia menaruh rasa untuk Damar. Dia bertanya kepadaku, memastikan kebenaran hubunganku dengan Damar. Dan saat ku katakan aku sama sekali tak ada hubungan spesial dengan Damar, gadis itu sangat kegirangan.

Tapi entah mengapa belum ada satupun gadis yang mengikat hati Damar. Padahal mereka yang menaruh hati pada Damar memiliki paras cantik, bahkan beberapoa dari mereka adalah kalangan anak populer di sekolah. Saat bertanya mengapa, Damar hanya bilang dia belum pengen pacaran ._.

'Heh, elo kenapa sih? Bengong mulu', lagi lagi Damar membuyarkan lamunanku.

'Gapapa kok Damaaaaar'

'Beneran?'

'Iyaaa, swear!',ucapku sambil membawa tanganku yang membentuk huruf V ke depan mukaku.

'Yaudah deh, yuk balik. Mumpung ada bus tuh',ajak Damar seraya menggandeng tanganku untuk bersama menaiki bus.

Kami duduk di bangku paling belakang. Disini tempat favourite kami, dimana kami dapat melihat seisi bus. Mengamati segala hal yang terjadi. Dan aku sangat menyukai momen seperti ini. Meski kadang sesak dan panas kalau busnya penuh, tapi inilah rasanya menyatu dengan masyarakat.

-----


No comments:

Post a Comment