Monday, 19 August 2013

INTERLUDE OF LOVE #PART 2




INTERLUDE OF LOVE #PART 2
Pengarang : Aku (Indah Melisiam)
Genre : Love story (drama)
Cast : 
Marsya Careninna
Damar Anggoro
Reno Adriano
Toddy Alfiansyah
etc

 Damar's Views












Latihan basket selesai. Beginilah agendaku setiap harinya. Bergumul dengan teman-teman untuk mengusir virus yang namanya galau. Meski harus bermandikan keringat setiap hari. Tapi ini mending, daripada aku harus bermandikan air mata setiap hari. Awwwwr~

♫ Can you leave me here alone now  i dont wanna hear you say that you know me that i should be always doin' what you say 

Hapeku berbunyi, hal yang cukup langka ada seseorang yang menelponku di siang yang terik seperti ini. Kurogoh saku celanaku, mencoba mengambil hape yang berdering ini.

'Baru juga dimasukkin kantong, eh udah minta keluar lagi',gerutuku. Tapi kesalku hilang setelah mengetahui siapa yang menghubungiku.

'Hallo, kenapa Sya?'

'Lo dimana? Belum pulang kan?'

'Belum kok, masih di hall nih, kenapa?'

'Pulang bareng ya?',jawabnya yang membuatku merasa deg-degan.

'Hlah lo dimana?'

'Di kafe depan sekolah, gue tunggu lo di halte depan ya?'

'Oke'

Itu tadi telfon dari Marsya. Gadis yang telah lama mengisi hatiku. Selalu menemani kesendirianku. Mewarnai hariku dengan warna warna pelangi yang cerah hehehe.

And now? Dia mengajakku untuk bersamanya siang ini. Itu adalah kejutan yang sangat berharga untukku setelah melewati hari yang cukup melelahkan.

Dengan semangat kuberlari lari kecil menuju tempat dimana Marsya menungguku. Dan dia disana. Duduk di bangku halte, termenung sendirian. Sungguh pemandangan yang benar benar indah di mataku.

'Hey, kenapa lo?',sapaku sembari mengagetkan dia yang sedang melamun.

'Gapapa kok', jawabnya sambil tersenyum, sepertinya dia ingin aku tahu kalau dia baik baik saja, meski aku tahu dia sedang tidak baik baik saja.

'Yakin nih?',aku masih mencoba untuk bertanya.

Dia mengangguk dan tersenyum lebih lebar. Aku pun ikut tersenyum, meski sebenarnya aku tau senyum dia itu palsu.

'Jadi ini kita mau kemana?',tanyaku.

'Lah, emang mau kemana kita?'

'Jalan mungkin? Hehe',aku berharap untuk bersamanya siang ini. Sudah lama kita tidak hangout berdua. Semenjak dia pacaran dengan kakak kelas bernama Reno. Waktu Marsya seakan hanya buat dia. Bisa-bisanya Reno memakan semua waktu Marsya. Hah. Hal itu membuatku sangat kesal.

'Enggak ah, gue capek banget Mar. Langsung pulang aja ya?',tolaknya. Jujur aku kecewa. Disaat aku memiliki kesempatan untuk bersamanya. Eh malah dia menolak ajakan ku untuk jalan dengannya. Andai saja Marsya tak pernah mengenal Reno. Pasti hubungan kita akan semakin baik dari hari ke hari.

'Oke', jawabku singkat.

Aku menerima apa yang menjadi keputusannya. Aku tak pernah memaksa Marsya untuk menuruti apa yang aku mau. Aku menyayanginya. Aku selalu mengusahakan yang terbaik untuknya, meski ia tak pernah sadar aku melakukan ini semua. Mungkin aku bodoh karena mengharapkan seseorang yang telah menjadi milik orang lain. Tapi memang inilah aku. Sudah lama aku menyukai Marsya dan aku belum pernah mencoba mengungkapkan perasaanku. Ya, aku tak berani. Belum berani, dan takut untuk ditolak.


Lagi-lagi dalam hari ini, untuk kesekian kalinya kulihat Marsya melamun, aku yakin dia sedang ada masalah.

'Heh, elo kenapa sih? Bengong mulu',ucapku sambil mendada-dadakan tanganku di depan mata Marsya. Dia kaget, tentu saja.

'Gapapa kok Damaaaaar'

'Beneran?'

'Iyaaa, swear!',ucapnya sambil membawa tangannya yang membentuk huruf V ke depan mukanya.

'Yaudah deh, yuk balik. Mumpung ada bus tuh',ajakku seraya menggandeng tangannya untuk bersama menaiki bus.Tangan Marsya lembut tapi sangat dingin, aku semakin yakin kalau Marsya memang sedang dalam keadaan tak wajar. Tapi aku bahagia hanya dengan menggenggam tangannya. 

Tapi aku segera melepaskannya setelah kami masuk dalam bis, aku tak mau Marsya curiga kalau aku menaruh perasaan padanya.

Aku mengikuti Marsya. Seperti biasa setiap kita naik bis, ia selalu memilih tempat duduk paling belakang. Dia suka duduk di bangku belakang. Ia bilang disini kita bisa belajar akan banyak hal. Dia mengajariku akan arti kehidupan. Dengan mempelajari kehidupan orang orang kecil, Marsya bilang dengan itu kita dapat mensyukuri hidup yang sekarang. Marsya kadang mengingatkanku untuk belajar dari seorang pengamen. Betapa berat pengorbanannya, nyanyi sana-sini, ngongkot-ngongkot gitar sana sini, cuman demi mengharapkan recehan.

Buat aku Marsya gak sekedar cantik. Tapi dia lembut, keibuan dan dewasa banget. Dia adalah motivasiku untuk selalu berfikir positif.

------

No comments:

Post a Comment