Tuesday, 20 August 2013

Ketika tak punya uang

Materi, sekarang menjadi hal yang sangat dibutuhkan dalam hidup ini. Sekarang, di dunia yang modern ini, manusia melakukan apapun untuk memperoleh barang yang disebut uang. Pagi siang malam, uanglah yang menjadi pikiran. Buat yang berduit, mereka akan memikirkan untuk apa uang-uang ini. Buat yang tak punya sama sekali, mereka memikirkan bagaimana akan makan esok hari. Naas.

Uang membuat beberapa kesenjangan sosial dalam hidup. Karena uang, ada kalangan bawah, kalangan menengah, dan kalangan atas. Padahal? Apa sih istimewanya uang? Hanya selembar kertas bukan? Lalu kenapa uang dapat menjadi sangat ternilai?

Bersyukurlah kau para kalangan atas, atas segala kesuksesan yang engkau miliki. Berterimakasihlah kepada Tuhan atas segala nikmat yang tlah Ia berikan. Nah nah nah.

Para pribadi yang sedang bergelimang harta, pastinya bahagia atas segala hal yang ia miliki. Mau apa tinggal beli, tanpa memikirkan besok mau makan apa. Lalu bagaimana dengan orang orang yang tidak memiliki uaaaaaang?

Banyak sekali hal yang dapat dilakukan untuk memperoleh yang namanya uang. Mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar. Beragam pula nominal yang bisa didapatkan sebagai imbalan. Ada yang sesuai ada yang tidak. Ya kehidupan memang kadang tidak adil. Tapi mungkin itu cara terbaik yang Allah rahasiakan.

Aku ingin berbagi satu cerita, cerita tentang pejuang negeri kita, Ir.Soekarno.

Aku baru saja membaca cerita ini dan dapat kurasakan bagaimana susahnya Beliau akibat memperjuangkan kebebasan kita. Bravo Indonesia!

------

Soekarno hidup menderita di akhir hidupnya. Dia menjalani tahanan rumah dan selalu dijaga ketat oleh tentara. Pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto memperlakukan proklamator RI ini sebagai pesakitan.

Soekarno tak punya uang simpanan di akhir hidupnya. Ketika salah seorang putrinya hendak menikah, Soekarno tak punya uang. Dengan malu dan terpaksa, dia meminta bantuan salah seorang istrinya, Yurike Sanger, untuk mencarikan utangan Rp 2 juta.

Dengan pengawalan ketat, Soekarno menemui Yurike. Wanita itu menangis melihat Soekarno. Tak ada lagi kegagahan yang dulu tampak. Sosok Soekarno kini tua dan renta karena tekanan batin. 

"Mas tak ingin diberi stempel sebagai bapak yang gagal. Yang jadi persoalan utama, Mas tidak punya uang. Hidupku selama ini sama sekali untuk bangsa dan negara, sama sekali untuk kepentingan nasional," beber Soekarno dengan getir.

Untungnya beberapa hari kemudian Yurike bisa mendapatkan uang itu. Dia mendapat pinjaman lunak dari seorang pengusaha.

Hal itu diceritakan Yurike Sanger dalam memoarnya yang ditulis Kadjat Adra'i dan diterbitkan Komunitas Bambu.

Peristiwa lain terjadi tahun 1969, saat itu Rachmawati Soekarnoputri menikah dengan Martomo Pariatman Marzuki. Soekarno dengan penjagaan ketat tentara Orde Baru datang ke pernikahan itu. Suasana sungguh mengharukan. Fatmawati, istri Soekarno menyambut suami yang lama tidak ditemuinya. Fatmawati pun sedih melihat kondisi Soekarno yang kurus dan lemah.

Dengan kasar tentara itu mengusir Fatmawati agar tak mendekati Soekarno. Presiden pertama ini benar-benar diperlakukan seperti narapidana.

Saat Sukmawati menikah, peristiwa itu terulang lagi. Soekarno semakin lemah. Dia bahkan harus dipapah saat naik tangga. Soekarno menangis tersedu-sedu melihat putrinya menikah. Hadirin pun menangis melihat Soekarno sangat tak berdaya.

Tapi tidak demikian dengan para penjaga Soekarno. Tanpa belas kasihan mereka mendorong Soekarno masuk mobil saat jam kunjungan berakhir. Saat Soekarno hendak melambaikan tangan, para tentara itu menarik tangan Soekarno dengan kasar.

Tak ada bedanya dengan memperlakukan bandit jalanan. Inilah senjakala sang pemimpin besar revolusi. Dicampakkan bangsanya sendiri.


Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-sedih-soekarno-tak-punya-uang-untuk-pernikahan-putrinya.html
------

No comments:

Post a Comment