Monday, 2 December 2013

Teruntuk, Dandelion.


Teruntuk, Dandelion.

credit : tumblr

Maafkan aku yang tak pernah mampu menepati janji-janji yang pernah aku ucapkan.
Maafkan aku yang tak pernah bisa selalu ada untuk menemanimu.
Maaf jika aku tak mampu menjadi apa yang kau inginkan.
Aku telah berusaha semampuku, memerangi hujan badai yang membelenggu.

Aku masih seperti biasa.
Aku masih mentari yang menyapamu setiap fajar.
Aku masih mentari yang menghangatkanmu setiap siang.
Mentari yang kau kagumi setiap senja.
Mentari yang berharap kau rindukan setiap malam.
Dan mentari yang kau butuhkan disaat hujan.

Aku tahu aku tak sempurna.
Aku tahu aku terlalu pengecut untuk bisa mengalahkan semua mendung yang menghalangi kebersamaan kita.
Aku terlalu rapuh untuk bisa mencari celah diantara kepingan awan yang kian lama semakin menyembunyikanku.
Aku tahu aku tak cukup setia.
Aku tak cukup sempurna untuk bisa memberikan sinarku untukmu sepenuhnya.

Terkadang, aku membenci diriku sendiri.
Membenci setiap sinar yang aku pancarkan untuk kemudian aku bagikan atas nama kepedulian.
Bukan sinar yang spesial, yang kubagi hanya untukmu atas nama cinta.
Aku tahu, tak hanya kau yang tak bisa hidup tanpaku.
Aku tahu, tak hanya kau yang selalu membutuhkanku.
Dan aku tahu, tak hanya kau yang menantikan setiap kehadiranku.

Aku bahagia, takdir menciptakanku untuk menjadi sumber kehidupan bagi setiap mereka yang membutuhkanku.
Tapi aku tak bisa mengelak, bahwa takdir pula yang telah menghipnotisku untuk tidak melewatkan rasa yang bernama cinta.
Aku juga tak bisa selamanya diam, membiarkan mulutku terbungkam dan membisu.
Tak bisa membiarkanku terus bersembunyi dari balik sangkarku.
Aku tak bisa selamanya membohongi perasaanku.

Jujur, aku sangat menginginkanmu Dandelion.
Meski aku tak pernah benar-benar bisa memilikimu.
Meski aku tak pernah benar-benar bisa merasakanmu.
Hanya lewat sinar yang aku punya ini, aku mampu memberimu kebahagiaan.
Hanya lewat sinar ini, aku bisa menghangatkanmu tanpa sebuah pelukan.
Dan hanya lewat sinar ini kau akhirnya menyadari keberadaanku.
Hanya lewat sinar ini kau mampu merasakan kehadiranku.

Terkadang, aku iri kepada angin.
Dia yang tak pernah benar-benar kau butuhkan.
Yang tak pernah benar-benar mampu membuatmu bertahan.
Bahkan kadang dia pun sering mengusikmu.
Menerbangkan semua kelopakmu hingga kau kehilangan mereka.
Tapi dia bisa dengan mudah menyentuhmu.
Setiap hembusannya, dapat membelai parasmu yang cantik.
Dapat menggoyangkan lekuk tubuhmu yang indah,
hingga tercipta tarian yang anggun.

Dan aku sang pengecut ini, hanya bisa memandanginya dari sini.
Berharap bisa mengajakmu berdansa.
Membayangkan bagaimana rasanya menyentuhmu, membelaimu.
Membayangkan bagaimana rasanya desiran darah ini setiap bersentuhan denganmu.
Membayangkan bagaimana rasanya  mencium wangi aroma kelopakmu
Dan menangkap setiap benihmu yang terbawa angin.

Dan kadang aku berharap, bahwa angin akan menerbangkan satu bagian dari dirimu
Disini, di dekatku.
Walau aku tau itu takkan mungkin.
Angin takkan cukup kuat untuk melakukan itu.
Dan kau takkan cukup kuat untuk bisa bersanding dengan kehangatanku.
Aku tahu, mimpi yang selalu aku khayalkan takkan pernah bisa menjadi kenyataan.
Aku tahu, asa yang aku fikirkan hanya akan benar-benar menjadi sebatas mimpi.


Dandelion, maaf jika aku terlalu lancang untuk memilihmu sebagai sosok yang aku kagumi.
Maaf jika aku terlalu kalut akan hal-hal yang aku risaukan.
Maaf jika aku telah membuatmu merasa tak nyaman.
Maaf jika aku membuatmu resah dan membuatmu ingin menghujatku.

Dari sini, aku memang bisa melihat jutaan bunga yang lebih menawan darimu.
Tapi aku tak mampu memungkiri kalau  hati ini memilihmu.
Kau bunga yang luar biasa, Dandelion.
Setiap makhluk yang mengetahui kisahmu pasti akan berdecak kagum.
Maaf jika apa yang aku tuliskan tak sesuai dengan apa yang kau duga.
Aku tak peduli apa yang akan kau pertanyakan kemudian.

Karena disini aku akan terus memberikan apa yang kau butuhkan.
Aku akan terus mengagumi dengan segala hal yang aku tahu tentangmu.
Aku akan terus berusaha memberikan apa yang terbaik untukmu.
Hingga kau akan terus bertahan.
Meski aku tak pernah akan bisa memilikimu.
Maafkan aku yang mencintaimu, Dandelion.


Disini aku yang menyayangimu, 


Mentari.

No comments:

Post a Comment