Monday, 6 April 2015

Dear, you. Yeah, you.


Dengan dirimu kini ku bahagia
Tak henti kau berbagi canda tawa
Hilangkan gairah lelah hatiku
Hadirmu mengubah arti hidupku

Jadilah aku tawanan cintamu
Kuserahkan seluruhnya untukmu
Kupenuhi semua yang kau inginkan
Tiada yang penting selain dirimu

Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu
Di setiap waktu
Di setiap waktu

*Pilot - Sepanjang Hidupku*

Entah sudah  seberapa sering kata 'kita' aku banggakan. Entah sudah seberapa sering kata itu memenuhi hariku, hatiku, mimpiku. Entah sudah seberapa sering aku mengharapkan kita selalu bersama sampai masa depan.
Entah sudah seberapa sering bibir ini mengulum senyum di depanmu. Entah sudah seberapa sering bibir ini menyebutkan namamu di sela setiap cerita yang aku dendangkan pada teman-temanku. Entah sudah seberapa sering raut wajah ini berubah-ubah seiring berjalannya waktu, mendengar kau bersenandung, bercanda, bercerita, marah dan apapun itu.

Entah sudah seberapa banyak rasa yang telah kamu ukir di hidupku. Bahagia, kesal, resah, galau, rindu dan semuanya yang kerap kali kau gelorakan di hatiku. Entah....

Sungguh, sudah terlalu banyak kisah yang tlah kita lalui bersama dan sungguh aku tak pernah merasa jera karenanya. Justru aku semakin ingin lebih, lebih dan lebih. Sudah terlalu banyak hal yang telah kau lukiskan pada kanvas hidupku namun tak pernah ingin aku mengakhirinya. Seribu luka pun yang kamu pahat di hatiku, tak sedikitpun aku sesali.

Meski sudah berjuta tetes air mata dan berapa kali rasa ragu menghampiriku, tapi tetap tak ingin kulalui bukan denganmu. Aku tetap menginginkanmu, aku tetap selalu ingin bersamamu. Tetap menanti semua maafmu, dan membuka hati untuk menerimanya dengan pasti... Setiap waktu, sepanjang hari... Semoga sepanjang hidupku.

Jujur... Sungguh ini terasa gagu, melakukan hal yang telah lama tak aku lakukan lagi untukmu setelah semua kesibukan ini. Tapi aku tetap ingin memberimu kisahku tentang kita disetiap hari yang aku rasa istimewa. Tetap ingin ku tegaskan padamu tentang artimu yang takkan pernah berpindah tempat dari kedudukannya. Kau tetap akan menjadi bintang yang aku banggakan dengan semua kekuranganmu. Kau tetap menjadi lelaki yang paling bersinar di mataku.

Katakanlah, katakanlah jika sebenarnya sendirimu yang mulai jera menghalau sifatku yang tak pernah bisa kau pahami. Tapi, dibalik itu semua aku pun tak pernah menginginkannya. Rasa itu yang sendirinya hadir, tak hanya menyiksamu.. Tapi menyiksaku pula. Andai kau mampu memahami bagaimana rasanya menahan semua hasrat yang aku sendiri tak tahu itu apa. Terkadang aku hanya tak ingin melepasmu pergi, barang semenit pun. Hanya itu...

Mungkin rasa yang aku derita cukup menguji sabarmu yang pastinya berbatas. Tapi aku tak ingin sekalipun sabarmu keluar dari batasnya. Tolonglah, selalulah, bersabarlah untukku, tanpa jera. Tolong...
😘
Tanpa kamu sadari, kamu pasti sebenarnya tahu apa yang selalu mengusik hatiku disetiap akhir pertemuan kita. Tak hanya akhir, bahkan di awal pun. Perpisahan... Kamu tahu? Aku hanya tak suka tanpa kamu disini. Aku lebih suka saat dulu kita berada di hunian yang sama. Semua terasa aman, nyaman, dan tak pernah aku merasa sesendiri ini.

Hanya saja semua rasa ini terlalu konyol, aku pun paham. Namun, aku tak mampu membohongi hati. Sungguh aku tak mampu menahan egoku untuk memintamu terus ada disini. Kamu lebih semacam kebutuhan untuk diriku, kau tahu? Disini, aku lebih sering menanti kabarmu yang bahkan tak pernah berkelanjutan kau berikan. Komunikasi kita disini tak beda saat aku ada di rumah dan saat kamu ada disini. Sungguh, komunikasi kita rasanya tak lebih dari itu.

Lalu kau menebus komunikasi itu dengan pertemuan hari minggu kita yang paling lama hanya tiga jam? Tanpa arah dan tujuan yang jelas pula. Tanpa pernah kau memberiku chemistry pula. Hanya cerita, cerita dan cerita tentang teman-temanmu yang aku rasa membosankan. Cerita itu tak mengubah rasa kecewaku, malah menambah iriku pada mereka yang mampu menghabiskan banyak waktunya denganmu. Kekanakankah iri pada teman-temanmu? Salahkah aku cemburu pada teman-temanmu?


Awalnya aku pikir perasaan cemburu itu gila, tapi akhirnya aku rasa itu wajar karena tak hanya aku yang merasakannya. Dalam tempo singkat ini pun temanku mengutarakan perasaan yang sama pula tentangnya yang iri pada teman kekasihnya. Apa semua lelaki memang begitu? Yang sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya dan lupa kalau dibelahan dunia lain ada wanitanya yang menanti-nanti kabarnya?

Kamu, aku yakin tahu apa yang aku rasakan saat ini. Tapi tak apalah, cinta ini akan membuatku terus menerima apapun itu yang kamu lakukan di luar sana. Mungkin memang kecewa, tapi bukankah aku selalu memaafkanmu di waktu yang berbeda? Dan kemudian kau akan terus menyalahkanku jika kejadian ini berulang dan terus berulang? Dan lalu kau akan berkata aku terus menginginkan hal tanpa pernah mengutarakan mauku, padahal yang aku permasalahkan hanya itu itu saja dan kau tak pernah mampu menerkanya pula.

Namun tak apa, ketidaktahuanmu atau ketidakpekaanmu takkan pernah mengubah rasaku. Pertikaian ini takkan membuatku jera untuk mempertahankan hubungan yang telah kita rajut sejauh ini. Tapi entah denganmu, aku pun tak tahu. Aku tak pernah tahu apa yang kamu mau akan hubungan kita. Aku tak pernah tahu. Tapi aku berharap kau pun mengharapkan hal yang sama.

Kau tahu? Kesibukanmu selalu aku andaikan sebagai pembelajaranku, mungkin sekarang kau sering lupa, tapi suatu saat semoga saja akan ada kesibukanmu yang bermanfaat saat kau sukses nanti. Dan aku belajar agar aku tidak merasa kesepian saat kau sibuk bekerja nanti.

Mungkin sekarang kau sedang sibuk menjadi ulat yang memakan dedaunan sana-sini. Yang menyebalkan yang membuat jengkel, bahkan kadang membuat diri ini ilfeel. Tapi tak apalah, sekali lagi ini pembelajaran untukku yang akan sering ditinggalkan olehmu yang sudah menjadi kupu-kupu dewasa yang sibuk mencari madu.
Jadi.... Sadarlah, disini aku tak hanya merasa kesal. Tapi aku juga kecewa, karena rasa cinta ini terlalu sayang untuk kau tinggalkan.

Aku mencintaimu, hanya itu yang aku tahu dan masih aku yakini sampai sekarang. Happy 3rd anniversary sayang, semoga kita masih ada di tahun berikutnya tanpa rasa yang berbeda tapi mungkin lebih. Tanpa banyak yang berubah, tapi makin banyak kisah. I love you and all what we've been through. Can i see you again next April? But as my boyfriend still? I hope so...