Saturday, 26 November 2016

I KNOW I'M STUPID, SO DONT BASH ME



Merindukan adalah hal paling menyakitkan setelah perpisahan. Begitu statemen yang pernah aku baca di suatu tempat dan aku sedang mengalaminya sekarang. Tak peduli betapa besarnya gengsiku, tak peduli seberapa banyak aku berusaha mempertahankan harga diriku. Itu fakta yang tak bisa aku elakkan dan fakta yang tak bisa aku ucapkan padanya. Lagipula—aku tahu ucapannku takkan berdampak apapun. He seems so just fine without me.

credit : Tumbler

I’m secretly crying almost everyday. Aku benci nampak lemah di depan orang lain. Aku tak ingin orang lain melihat airmataku. Bukankah menjadi menyedihkan jika nantinya aku mendengar ucapan mereka padahal mereka sama sekali tak tahu bagaimana perasaanku?

Aku berharap aku hidup di dunia di mana aku tak perlu mendengar ucapan orang lain. Sehingga aku tak segan untuk mengalah dan memenangkan hatinya lagi. Namun itu terdengar mustahil. Bahkan aku tak melihat cinta lagi ada padanya. Dan aku tak melihat orang lain mau mengabaikan perasaanku tentang kita.
Berat rasanya setiap kali harus menjawab pertanyaan orang tuaku yang selalu menanyakan tentangmu. Pertanyaan yang sama di setiap telepon, juga jawaban yang sama yang aku ucapkan membuatku merasakan hal aneh di dalam dada. Aku merasa kosong dan tak mengerti cara mengisinya lagi.

I don’t like the way i should forget you. Haruskah aku? Karena aku selalu mengingatnya bahkan disaat aku tak menginginkannya. Setiap hari, bahkan di setiap detik aku menghembuskan nafasku. Tapi melupakan adalah hal yang harus dilakukan di setiap perpisahan—karena mengenang terdengar lebih menyakitkan.

The though that you’re not loving me too, just hurt me. Aku selalu teringat kata-katanya. “Jika aku tak mencintaimu, maka aku akan pergi begitu saja seperti lelakimu yang dulu.” Begitu. Kenyataan bahwa sekarang dia pergi membuatku berpikir bahwa dia tak lagi mencintaiku. Dan itu menorehkan luka semakin dalam, terdalam yang pernah aku rasakan. Karena sebelumnya aku tak pernah merasakan yang seperti ini. Ini yang terkejam, ini adalah mimpi terburuk yang pernah aku alami. Bolehkah aku berharap ini benar-benar mimpi? Agar saat aku membuka mata aku masih bisa menemukannya disiku?

Tuhan sedang tak mengizinkan hal semacam itu terjadi padaku.

credit : Tumbler

Till this moment, i’m still waiting for you—but you don’t seem to care. Kata mereka yang membaca ceritaku—aku sering membuat sang tokoh berada dalam konflik yang menyedihkan. Katanya aku tega dengan membiarkan tokohku berada dalam konflik berkepanjangan. Menimpanya dengan masalah demi masalah yang penyelesaiannya berbelit dan lama. Percayalah—aku merasa kalau ceritaku lebih pelik. Andai aku bisa membuat akhir untuk ceritaku sendiri. Maka aku akan menulisnya sebaik mungkin, serapi mungkin, agar aku dengan puas dapat menuliskan kalimat happily ever after di belakangnya.

Dulunya, menunggu adalah hal yang paling aku benci. Aku bukan tipikal orang sabaran yang mau menyia-nyiakan waktuku untuk itu. namun kini aku melakukannya—bahkan aku menunggu hal yang kemungkinan terjadinya sangat kecil.

Almost a month passed, and there was no change. Hampir sebulan aku menunggu dan tak ada yang berubah sedikitpun. Aku masih larut dalam kesendirianku. Dalam harapan semu yang aku susun tinggi-tinggi, dalam tangisan yang selalu aku sembunyikan rapat-rapat. Aku tahu aku harus menyiapkan diri baik-baik untuk terjatuh, karena aku sadar apa yang aku tunggu sama sekali tak berbalaskan.

Mungkin nantinya, apa yang aku tunggu akan memberi jawaban lain. seperti kemungkinan dia sudah bersama orang lain. atau kemungkinan lain semacam itu. aku benar-benar harus menyiapkan hati untuk dia remukkan lagi. Tak apa—mungkin dengan begitu airmataku kelak akan habis dan aku takkan menangis lagi sepanjang hidupku.

credit : Tumbler

I wish i didn’t love you, so i don’t need to remember every single thing about you. Aku membaca ulang puisi dan racauan yang dulu pernah aku tulis untuknya. Dan aku berpikir tentang seberapa banyak masalah yang dulu pernah kita hadapi—tapi kita bertahan untuk terus bersama. Dan kenyataan kalau kita berakhir karena hal yang sepele seperti ini, membuatku merasa gagal.

Aku berpikir tentang alasan lain yang mungkin ia miliki—yang tak aku ketahui. Tentang hati lain, atau kenyataan bahwa dia memang tak mencintaiku lagi. Sampai detik ini aku hanya masih percaya kalau kita masih saling mencintai. Karena itu aku mencari kemungkinan untuk bersama lagi, namun semuanya terlihat semu.


You don’t need to stay if you won’t it. Aku percaya kata teman-temanku, bahwa jika dia memang mencintaiku maka dia akan memperjuangkanku. Tapi kenyataannya—tak ada satupun dari kami yang mau berjuang untuk bersama. Apa itu berarti memang kami tak lagi ditakdirkan untuk bersama? Well, kami mungkin ditakdirkan untuk berpisah.

Ada waktu dimana aku tak ingin menunggu, seperti kemaren misalnya. Aku mencari alasan untuk menghubunginya. Hanya alasan—karena sebenarnya aku tak perlu melakukan itu jika aku tak ingin.  Namun aku  ingin tahu bagaimana responnya? Dan aku tahu aku akan kecewa, karena benar. Dia tak menyambutnya dengan antusias—kenyataan bahwa ia tak mencintaiku lagi terus terngiang-ngiang di otakku.
Semudah itukah dia melupakanku? Semudah itukah menjadi baik-baik saja setelah kehilangan cinta yang setelah sekian lama bersamamu?

Kemungkinan bahwa aku takkan bisa melupakan namanya adalah nyata. Aku tahu aku bodoh. Dan aku tak butuh ucapan orang lain untuk memperjelas itu.




Sunday, 20 November 2016

PLEASE DON'T HATE EACH OTHER

credit : Tumbler


Cuplikan dari sebuah novel yang belum pernah aku baca dan awalnya aku sama sekali tak tertarik dengan itu. Namun sekarang aku sangat ingin membacanya. Hahaha

Dia benar-benar merubah banyak hal tentangku. Aku mulai menyukai hal-hal yang tak kusukai sekarang. Aku juga sedang mencoba untuk menjadi baik-baik saja.

Kata Dilan, “Tenang saja, perpisahan itu tak menyakitkan. Yang menyakitkan adalah bila setelah ini saling benci.”

Aku belum pernah saling membenci dengan seseorang yang menjalin hubungan denganku. Hubunganku dan mantan kekasihku yang lain selalu berjalan baik-baik saja. Meski kami tak saling berhubungan namun kami akan tetap saling menyapa jika bertemu di dunia nyata.

Lalu apa kabar dengan kita sekarang?

Kita juga tak saling berhubungan. Namun akankah kita saling menyapa saat bertemu? Karena aku tak yakin aku bisa melakukannya.

Aku tak ingin membencimu, maka jangan lakukan sesuatu yang dapat membuatku sekiranya merasakan itu.


Mari berteman tanpa saling membenci. Mari berpisah tanpa saling tak mengenal :”)

Friday, 11 November 2016

NOW I REALIZE THAT I’M REALLY ALONE



Sendiri; bukan suatu kata yang enak untuk didengar. Bukan juga suatu peristiwa yang menyenangkan untuk dilihat. Selalu terbersit rasa kasihan pada seseorang yang kita lihat melakukan segala sesuatu sendirian, ya kan?

Namun, awalnya hal itu terdengar menyenangkan bagi kaum introvert sepertiku. Tapi lama-lama sendiri justru seperti kegelapan yang mencekam. Semakin larut di dalamnya, semakin sunyi pula yang kudapati.

Awalnya sendiri itu menyenangkan. Namun semua berubah semenjak aku kehilanganmu.

Kini aku benar-benar tahu apa artinya sendiri. Dimana tak ada lagi tempat untukku menggantungkan diri. Tak ada lagi hati yang aku miliki. Tak ada lagi hati yang aku singgahi. Sampai sekarang aku masih tak percaya kalau kita benar-benar saling melepaskan.

Tapi takdirmu berkehendak lain. Dan takdirku hanya ingin menunggu.

Mungkin benar tak mengapa kita berpisah. Daripada kita saling bertahan dengan memaksakan kehendak dan mengikuti ego kita sendiri.  Daripada kita saling menghakimi lawan masing-masing. Toh, hubungan kita memang sudah gagal :) dan kau menyerah untuk memenangkanku.

Kehilanganmu menyadarkanku akan banyak hal, meski baru dua minggu berjalan. Salah satunya menyadari bahwa selama ini kau memiliki peran penting dalam hidupku selama empat tahun terakhir ini. Dan kedua aku menyadari kalau untuk keempat kalinya aku gagal menjadi gadis yang patut untuk diperjuangkan :)

Aku kehilanganmu :)
Tak ada lagi seseorang yang perlu aku kabari di sela waktu bekerjaku. Tak ada lagi sosok yang aku harapkan menyambutku sepulang kerja dengan pesan-pesanmu. Tak ada lagi seseorang yang siap mendengarkan cerita keseharianku yang penuh dengan kebodohan. Aku benar-benar kehilangan semua itu.

Namun sekarang aku menjadi lebih mandiri. Aku tak lagi bergantung padamu. Dan lagi—aku semakin dekat dengan ibuku. Karena kini pesan yang biasanya aku ketik, dan aku kirimkan untukmu—aku kirimkan ke nomornya. Pesan beliaulah yang kini menggantikan pesanmu di ponselku. Aku bahkan tak lagi kehabisan bahan bicara saat aku menelepon beliau yang kini seminggu tiga kali, hahaaha. Bahkan aku menghabiskan paket teleponku yang dua jam hanya untuk mengobrol dengannya. Terimakasih, aku jadi tahu kalau ibuku sangat menyayangiku dan sangat peduli padaku meski jarak kami sejauh ini :)

Aku ingin bercerita padamu :)
Herannya, semenjak kau mencampakkanku—aku menghadapi banyak kesialan. Mulai dari aku lupa membawa kunci loker, dan membuatku harus naik ojek mahal—balik ke mess terus ke pt lagi—dengan tukang ojek bapak-bapak yang ngambil jalan pintas dengan wacana nembus macet biar cepet sampai di pabrik. Kami dikejar oleh waktu dan aku benar-benar panik waktu itu. Aku sempat suudzon andai saja tukang ojek itu nantinya memberhentikanku di jalanan sepi dan aku diculik/diperkosa. Aku benar-benar memikirkan hal itu waktu itu dan terserah kau mau percaya apa tidak—tapi waktu itu aku benar-benar menyiapkan kontakmu untuk aku hubungi jika saja kekhawatiranku benar-benar terjadi.

Kamu adalah orang pertama yang aku harapkan saat itu. Bahkan saat aku sadar aku melupakan kunci loker itu, namamu lah yang terbesit dibenakku untuk pertama kali—untuk menolongku. Namun kenyataan bahwa kau mencampakkanku meruntuhkan harapanku. Aku bahkan tak yakin jika kini kau peduli. Dan aku kembali mencoba mandiri dengan mengandalkan diriku sendiri.

Lalu masih di minggu yang sama, aku pingsan di PT.
Apa kau mengkhawatirkanku? Jika iya, aku baik-baik saja kok. Aku hanya mendapat serangan dismenoria seperti biasanya. Kau pasti masih ingat kelemahanku, kan? Hebatnya aku! Aku membuat semua orang di gedung devisiku panik. Banyak atasan mengelilingiku saat aku sadar dengan menyodorkan berbagai minyak dan minuman hangat. Mereka menanyaiku banyak hal yang malah membuatku pusing. Ditambah kenyataan kalau aku masih anak baru yang training dua minggu. Aku berakhir dengan tidur di klinik sambil menunggu bel pulang.

Dan aku berpikiran untuk memintamu menjemputku waktu itu. Tapi beruntungnya aku, karena Desi sudah menyiapkan pasukan untuk menjemputku sehingga aku sekali lagi bisa mandiri tanpamu.
Di dalam klinik itu, untuk pertama kali semenjak kau memintaku untuk pergi—aku menangis. Aku benar-benar merasa kehilanganmu. Rasa sakit di perutku tak sebanding dengan rasa sakit di hatiku. Suster yang bertugas di klinik itu sampai mendatangiku dan bertanya apa aku masih sakit, padahal dia sudah memberiku obat pereda rasa nyeri. Yah! Hidup terkadang memang menyedihkan bukan?

Kesialan lainnya—minggu berikutnya aku tak satu shift dengan Desi. Kau sendiri tahu, aku tak pernah berpisah dengannya. Bisa dihitung jari, berapa kali aku tak bersamanya. Dan tanpa kehadirannya aku semakin merasa kesepian dan frustasi. Aku benar-benar sendirian—baik di mess maupun di pabrik. Seperti anak ayam kehilangan induknya, hidupku benar-benar menyedihkan untuk sementara ini.

Apalagi di pabrik, aku masih menjadi anak bawang yang dilempar kesana-sini. Bekerja dengan senior menyebalkan berwajah jutek. Bahkan yang paling menyebalkan—beberapa kali aku disuruh bersih-bersih. Dengan menggunakan kemoceng aku disuruh membersihkan debu sepanjang lima lorong warehouse dengan dua rak di masing-masing kiri dan kanan. Dan masing-masing rak memiliki 4-5 tingkat. Riwayat asmaku yang alergi pada debu membuatku terus bersin hingga sekarang. Ditambah lagi, leader menyebalkan itu menyuruhku untuk membereskan gudang. Dengan berkarton-karton barang disposal yang harus aku rapikan. Rasanya aku ingin melambaikan tanganku menyerah pada semua ini.

Awalnya, aku menulis entri ini dengan tangan dimalam kamis, di dalam kamar messku. Suasana sedang mati listrik, kedua ponselku mati, desi sedang bekerja dan aku tak punya hal lain untuk dilakukan. Beruntungnya, aku membawa binderku—jadilah aku menulis artikel yang lebih seperti diary atau surat cinta ini. Sebelum akhirnya aku ketik ulang dan aku mengeposnya disini. Aku tahu aku kekanakan, dengan beberapa kali menulis status tentangmu—tentang kita. Apalagi dengan ini, aku seperti membiarkan semua orang mengakses cerita hidupku. Aku mengumbar masalah pribadiku. Tapi bukan itu poinku.

Aku hanya ingin berbagi pada siapapun yang membacanya, aku ingin kalian semua yang membaca ini tahu kalau selama ini aku hanya berpura-pura bahagia. Karena faktanya aku terluka—sangat sangat sangat sangat sangat dalam sekali. Dan karena sekali lagi aku tak memiliki seseorang untuk mendengar ceritaku, maka aku bercerita dengan diaryku. Dan blog inilah tempatku telah menuang berbagai kisah absurdku.

I’m nothing without my diary like i’m nothing without you. Hahaha

Sekarang, aku merasa seperti pecundang. Aku tak memiliki teman untuk diajak berbicara panjang lebar seperti aku berbicara denganmu. Aku bahkan berharap setiap hari adalah weekend agar aku bisa pulang ke kontrakan seperti hari ini. Agar setidaknya aku memiliki  teman untuk mengobrol dan terhindar dari peristiwa yang namanya menangis. Aku tak suka menangis dan aku tak mau sering-sering melakukan itu.

Aku belum bisa berkomunikasi dengan teman sekamarku di mess yang tunarungu. Dan aku belum mau mengenal mereka yang bisa berbicara normal disana. Karena mereka yang sempurna justru terlihat mengerikan untuk aku ajak berteman. Mereka melempar komentar di sana-sini yang sangat membuatku tak nyaman.

Namun di mess, aku yang notabene paling sempurna malah merasa paling menderita. Setiap harinya—dua teman sekamarku pasti didatangi temannya yang sesama tunarungu, mereka akan berkumpul di dalam kamarku dan mengobrol asyik dengan bahasa mereka yang tak ku mengerti. Aku hanya sebagai penonton yang mengamati tiap orang yang berbicara dengan heran. Rasanya aku seperti sedang menonton pertunjukkan pantomim. Diam-diam aku mengagumi mereka. Mereka bisa bahagia dengan cara mereka, dengan sesama mereka.

Sedangkan aku yang sempurna malah sering mengeluh hanya dengan satu kekurangan yang tak berarti. Aku yang sempurna malah membuang-buang waktu untuk menangis gara-gara putus cinta. Aku berbicara pada diriku untuk tak boleh menangis lagi. Sendiri tak membuatmu mati! Kau masih punya orang lain yang peduli padamu! Itu yang aku tekankan berkali-kali pada diriku.


Bagaimana mungkin aku yang lebih sempurna dari mereka malah merasa sekesepian ini? Padahal aku bisa berbicara, mendengar, menyanyi—aku lebih beruntung dari mereka. Dan aku harus mensyukuri hidupku lebih baik lagi. Kehilangan bukan akhir dari segalanya. Aku tahu aku cengeng—dan tak seharusnya aku mengeluhkan hal semacam ini lagi. Namun aku tak bisa berjanji untuk tak melakukan itu. Karena sungguh—sekali lagi, aku merasa sangat sangat sangat sangat sangat sakit.

Tapi setidaknya aku bangga pada diriku, karena aku masih bisa terlihat tegar dengan terus tersenyum di depan semua orang setelah kehilangan cinta yang telah jauh aku pertahankan empat tahun setengah ini. Aku berhenti berjuang—karena semua orang menyadarkanku bahwa berjuang memang harus bersama namun mengejar itu bukan tugasku.  Aku menerima berbagai wejangan untukku berhenti merendahkan diriku di hadapan seorang pria. Selama ini aku menganut asas cinta harus diperjuangkan, maka aku memperjuangkan apa yang aku cinta. Namun kini—aku mengurungkan asasku. Aku kembali pada kodrat kewanitaanku, dan dalam cinta memang artian emansipasi wanita itu tak seharusnya berlaku.

Wajahku menghangat saat aku menulis ini. Oh tuhan!

Sekali lagi, aku takkan menyesali perkataanku yang mengkritikmu. Aku merasa benar dengan opiniku dan takkan pernah menariknya. Memang seharusnya aku mengucapkan itu—sesuatu yang membuatku tak nyaman tentangmu. Kenyamanan adalah poin pertama dalam satu hubungan. Dan jika kau tak bisa memberi kenyamanan itu maka aku tak bisa bernegosiasi akan apapun.

Aku pikir, ucapanku bisa membuatmu sadar akan tingkah berlebihanmu. Namun nyatanya kau tak menyadarinya. Aku tahu kamu tak bisa meninggalkan hobi barumu itu kini. Maka memang ada baiknya kamu meninggalkanku. Karena aku dan hobimu itu tak bisa disandingkan. Hobimu bukan sesuatu yang membuatku nyaman.

Bahkan  beberapa hari yang lalu kau juga baru saja beraksi di salah satu stadion di Karawang kan?
Berhentilah menulis status untuk memojokkanku. Bukan aku tak melakukan apapun, tapi kau yang tak melakukan apapun. Bahkan kau lebih memilih untuk menghibur diri dengan melakukan hobimu yang tak kusukai daripada untuk mendatangiku yang jelas-jelas lebih dekat jaraknya. Dan bukan aku menyadari tentang ketidaksempurnaan yang kamu bicarakan atau apa. Karena aku tak pernah mempermasalahkan hal itu. Justru sikap sok sempurnamulah yang membuatku menjauh.

Kau bertingkah seakan kau emas atau apa yang berharga. Sehingga kau selalu urung untuk merendahkan dirimu untuk mengejarku. Kau yang selalu merasa benar dan menanti maaf dariku seolah kau tak pernah melakukan sesuatu yang salah. Kau yang selalu merasa aku memojokkanmu dengan semua statemen yang aku ucapkan, dan sakit hati dengannya padahal memang begitu kenyataannya.

Aku belum berniat untuk melepas atau melupakanmu. Namun jika kau terus saja menumpuk egomu dengan selalu memasang mindset bahwa kau pantas untuk dimintai maaf—maka aku akan melakukan itu. Mungkin suatu saat akan ada waktu dimana kau memiliki seseorang yang membuatmu sadar akan hal itu. Ini bukan kali pertama aku berbicara bahwa kau adalah seorang lelaki. Tak seharusnya kau menunggu. Kaulah yang seharusnya mengejar. Jika sosok itu bukan aku, maka mungkin akan ada yang lainnya yang mampu menyadarkanmu akan hal itu.

Dan biarkan aku mengatakan hal ini lagi padamu....

Menyukai segala sesuatu dengan berlebihan itu tak baik. Mungkin kelihatannya baik untukmu atau untuk seseorang di sekitarmu yang menganut hal yang sama denganmu—namun, tak semua orang sama denganmu. Bisa jadi kan sebenarnya ada juga orang yang berpikiran sama denganku? Hanya saja mungkin mereka tak berani dan enggan untuk mengungkapkannya. Aku bukan seseorang yang bisa memendam keluhanku. Aku lebih suka untuk jujur dan melepaskannya.

Jika aku tak bisa membuat pikiranmu berubah tentang semua hal di atas. Maka biarkan satu pesan terakhirku ini untuk kau dengarkan dan kau aplikasikan baik-baik dalam hidupmu. Kau boleh menyerah tentangku—namun jangan sampai kau menyerah pada hal lainnya. Kau harus mewujudkan mimpimu yang ingin kau raih. Membuka usaha seperti apa yang ingin kau rencanakan. Aku harap hidupmu akan baik-baik saja. Aku harap kau segera mengakhiri masa menganggurmu. Semoga kau lekas mendapatkan pekerjaan yang mampu membuatmu nyaman. Semoga kau lekas mengakhiri masa pengangguranmu. Dan masa jomblomu juga, mungkin?

Aku tak keberatan jika nantinya kau mendapatkan dia yang baru dan memperlakukannya seperti putri. Jika nanti kau membanggakannya di depan umum, maka aku akan turut bahagia karenanya. Kau harus mengurangi sifat egois dan tak mau mengalahmu, oke? Karena tak semua wanita sesabar aku. Kau mungkin akan menemui yang lebih menyebalkan dariku.

Merendahkan dirimu untuk seseorang yang kau cinta itu tak ada salahnya. Aku sudah kerap melakukan itu padamu, dan aku pernah bahagia dengan itu. Aku tak merasa bodoh atau apa kok. Karena untuk seseorang yang kau cintai, kadang kau harus mengorbankan perasaanmu sendiri. Terkadang, wanita mengharapkan seorang lelaki bodoh yang mau mengorbankan segala sesuatu untuknya. Bukan sekedar telenovela—namun hampir semua wanita menginginkan hal semacam itu. Menjadi bodoh tak selamanya membuatmu dipandang rendah. Dan sikapmu yang terlalu keras itu kadang malah membuatmu nampak bodoh.

Namun kau boleh tak mendengar nasihatku, aku hanya mencoba menjadi mantan yang baik.
Apa ucapanku sudah cukup manis? Karena nanti aku berencana untuk menjadi diriku apa adanya. Semoga kelak akan ada seseorang yang menganggap perilakuku manis, ya?

Aku berusaha akan berhenti mengharapkanmu dan aku akan berhenti menulis kata-kata lemah seperti ini. Sebenarnya aku ingin berjanji, namun sepertinya itu terlalu membebaniku. Beri aku waktu setidaknya tiga-enam bulan untukku benar-benar bisa menyesuaikan diri tanpamu. Aku takkan menghubungimu lagi, aku takkan menganggumu lagi, aku takkan membiarkan mulut kotorku mengoceh di sekitar telingamu lagi—kau takkan mendengar ucapan menyakitkanku lagi. Bukankah itu yang kau harapkan?

Aku akan menerima rasa kesepianku dengan lapang dada. Dan kelak aku akan menceritakan kepada anakku tentang betapa tragisnya kisah cintaku. Aku takkan sok cantik lagi—aku akan intropeksi diri sebanyak-banyaknya. Agar aku tak lagi mengalami putus cinta untuk yang kelima kalinya. Semoga ini yang terakhir. Semoga aku tak bertemu dengan lelaki semacam kalian lagi.

Aku akan membahagiakan diriku. Aku juga berdoa untuk kebahagiaanmu. Aku akan membiarkanmu membuka lebar sayapmu. Dan aku akan mengamatimu terbang dari tempat ini. Kau tahu kan? Aku akan menghubungimu nanti saat aku sudah bisa membayar hutangku. Akhir bulan ini, aku berjanji. Aku takkan membebanimu lagi :)

Kau harus doakan aku juga ya? Semoga aku menjadi lebih baik lagi dari ini. Semoga kelak aku menjadi gadis yang berarti untuk semua orang di sekitarku. Untuk seseorang yang menemaniku, semoga nanti aku menjadi wanita yang pantas untuk diperjuangkan.

Dan dengan semua kesendirianku, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk hal itu. Meski sebenarnya aku sama sekali tak ingin sendirian. Aku takkan memintamu untuk tinggal, karena aku tak mau jika kau melakukannya bukan dari hatimu.

Mari kita bahagia dengan cara yang baru :)



Saturday, 5 November 2016

A GOODBYE

Semenjak 23 Agustus lalu, aku tak lagi mengerti apa itu artinya cinta dan bagaimana  aku harus menanggapi hal itu. Aku benar-benar tak memahami kenapa satu kata itu bisa memberi dampak yang luar biasa maha dashyat bagi kehidupan seseorang. Bagaimana satu kata itu bisa memberi pengaruh yang begitu mendalam bagi kehidupan setiap orang?

Aku berhenti menulis, aku berhenti menghitung hari dimana status kami tak lagi sama karena aku yakin hubungan kami akan berjalan baik-baik saja tanpa status apapun. Namun pada akhirnya aku kembali sanksi. Aku kembali di hadapkan pada status itu lagi—berpacaran dengannya. Namun akhirnya aku urung. Status itu terlalu membebaniku. Status itu terlalu membuatku memikirkan banyak tuntutan untuk mengekangnya melakukan ini-itu. Untuk memintanya melakukan segala hal untuk itu. Dan dengan status itu, aku merasa geram jika ia tak menuruti keinginanku.

Maka dari itu aku tak menginginkan status semacam itu mengikat kami. Aku tak ingin membebaninya dengan pikiran-pikiran tentang keinginanku. Namun ia tak mau mengerti, ia tak mau mengerti kenapa status itu membuatku tak nyaman. Ia pasti sibuk memikirkan hal buruk yang aku pikirkan, padahal sebenarnya aku hanya memikirkan kenyamanannya. Aku tak ingin ia merasa tak nyaman dengan pemikiranku. Namun ia tak mengerti. Ia tak mau mengerti.

Berkali-kali ia memintaku untuk mengungkapkan apa yang aku pikirkan. Awalnya aku ragu. Aku tak mau. Tapi lambat-laun dia berubah menjadi sosok yang menyebalkan. Keegoisan mendarah daging dalam hidupnya. Aku tak lagi bisa mengerti tentang dia. Aku tak lagi mengenalnya. Ia berubah. Ia asyik dengan kehidupannya sendiri dan aku tak berniat untuk masuk ke dalam perhitungannya lagi. Karena mengharapkannya hanya akan membuatku sakit.

Aku pernah berkata, aku sering berkata bahwa dua orang yang saling mencintai namun memilih untuk berpisah itu pembodohan. Mereka hanya saling menyakiti hati masing-masing.

Namun sekarang, aku dengan sadar ingin menarik ucapanku kembali. Setelah melewati kisahku sendiri kini aku tak bisa memungkiri kenyataan. Saling mencintai saja tak cukup untuk menjaga suatu hubungan tetap bertahan. Lamanya hubungan pun tak cukup untuk membuat kami menyayangkannya. Tak cukup untuk membuat kita saling bertahan. Karena untuk tetap bersama kita harus memiliki faktor lain selain cinta. Saling memahami, saling menghargai, saling percaya dan yang jelas keinginan untuk saling bertahan satu sama lain.
Aku sudah tak melihat hal semacam itu lagi dalam hubunganku.

Aku tahu kami masih saling mencintai satu-sama lain. Namun takdir tak lagi menginginkan kita untuk bersama. Kita belum cukup dewasa untuk bisa memerangi ego masing-masing. Percuma aku mengungkapkan keinginanku aku menahan semua gengsiku dengan mengemukakan semua isi otakku kalau pada akhirnya ia sendiri tak bisa memerangi ego yang didirikannya.

Sungguh! Sungguh sangat menyakitkan saat seseorang yang selalu bersamamu selama lebih dari lima puluh bulan lamanya, ia memutuskan untuk berhenti dari permainan ini. Aku tak keberatan, karena kau sendiri tahu kalau tak ada hal yang bisa dipertahankan dari hubungan ini.

Aku menerima keputusannya dengan lapang dada. Bukan karena aku tak mencintainya lagi, bukan karena aku tak ingin berjuang bersamanya lagi. Hanya saja, aku tak ingin sakit hati lagi. Biarkan aku sakit hati sedalam-dalamnya sekali ini saja. Lukaku akan sembuh seiring berjalannya waktu, daripada aku terus bersamanya dan membiarkannya menorehkan luka yang sama setiap harinya. Itu akan lebih menyakitkan.

Haha. Lucu memang mendengarnya berucap bahwa mulutku pedas. Ia bilang mulutku mengeluarkan kalimat yang menyakitkan. Padahal aku hanya berusaha rasional mengungkapkan fakta yang aku rasakan. Aku hanya mengungkapkan kesalahan dirinya yang tak ia sadari. Aku tahu dia tersinggung dengan ucapanku, dalam lubuk hatinya yang terdalam ia pasti tahu kalau apa yang aku ucapkan adalah benar. Maka dari itu ia merasa sakit hati atas ucapanku, kalau ucapanku salah—mana mungkin ia merasa sakit hati. Ya kan?

Gadis mana sih yang mau mendengarkan cerita yang jelas-jelas tak disukainya setiap hari? Setiap detik bersamanya sudah tak asik lagi buatku. Setiap ajakan kencannya sudah tak membuatku berminat lagi karena aku tahu apa yang akan menjadi topik utama setiap pembicaraan kami.

Bosan? Apa aku bosan? Tentu.

Aku bosan pada setiap topik yang ia ungkapkan tentang sepak bola. Tentang klub yang dielu-elukannya sedemikian rupa. Tentang suatu hal yang disukainya dan secara berlebihan ia banggakan. Ia bahkan tak tahu apa jawabannya saat aku memintanya untuk memilih antara diriku atau klub bolanya itu. Namun sekarang aku sudah tahu jawabannya dengan jelas, ia lebih memilih hal itu. Yah. Aku hanya bisa berdoa sekarang, semoga hal itu benar-benar lebih membahagiakannya daripada caraku.

Aku ingat, dulu dia tak seperti itu.
Aku tak ingat kapan ia mulai seperti itu.

Dulu hubungan kami manis, aku selalu tertawa pada setiap humornya yang meskipun menurut orang lain tak lucu namun aku selalu berusaha tertawa. Namun semenjak ia keranjingan dengan klub bola itu, sosok membahagiakannya kian lenyap. Caranya mengoleksi beberapa atribut bola yang tak bisa dikatakan murah, bahkan beberapa diantaranya tak ia butuhkan sama sekali. Namun ia membelinya tanpa menyayangkan apapun. Ia bahkan mengikuti sebuah forum yang membuatnya harus mengiurkan sejumlah uang untuk klub itu. Dia bilang itu suatu bentuk loyalitas, padahal itu tak berdampak apa-apa untuk dirinya.
Ia bilang ia bahagia melakukan itu.

Aku tak suka caranya menghamburkan uang untuk kegiatan tak penting. Kesenangan memang harus diprioritaskan tapi kesenangan dengan cara yang masuk akal kan banyak? Kenapa kita harus membuang waktu dan uang hanya untuk sesuatu yang tak penting? Oke. Aku angkat tangan saat ia berkata itu penting baginya. Aku tak tau lagi jalan pikirannya. Aku hanya berharap suatu saat aku dipertemukan dengan seseorang yang sepemikiran denganku.

Lucunya, saat aku mengungkapkan hal itu. Ia akan membalas ucapanku. Ia akan mengatakan beberapa hal yang membuatku mati kutu. Ia akan memutar ucapanku dan membalikkannya. Bagaimana denganku sendiri yang ingin menonton konser boyband seharga jutaan?

Aku hanya ingin, catat! Realitanya? Aku tak tahu. Jelas aku akan memikirkan nasib kedua orangtuaku. Lebih baik aku mengumpulkan uangku untuk mereka daripada menghamburkan uang sebanyak itu. Toh, aku masih bisa menonton mereka lewat ponselku.

Dulu dia adalah sosok dewasa. Ia tahu mana yang harus diprioritaskannya dan mana yang harus ia kesampingkan. Namun kini, ia lebih childish dari lelaki manapun yang aku kenal. Ia bersikap sok dengan tingkahnya, ia selalu merasa paling benar dengan apa yang dilakukannya.

Dan sekarang seharusnya aku bersyukur, dia melepasku. Dia bahkan mendoakanku agar aku mendapatkan seseorang yang mau mengerti apa mauku. Semoga doanya menjadi nyata ya :)

Kami benar-benar tak saling berhubungan lagi sampai detik ini. Aku teringat pesan panjang lebarku yang tak dibalasnya sama sekali. Sakit sih, tapi aku sudah mengikhlaskannya. Tak apa menjadi yang tersia-siakan, karena berdasar opini yang aku baca sosok yang disia-siakan itu biasanya akan dicari oleh orang lain.
Aku mencoba untuk percaya akan hal itu.

Aku memutuskan untuk tak pacaran lagi. Aku akan menunggu saat yang tepat sampai ada sosok yang datang mengisi hatiku, maka aku akan memintanya untuk menikahiku karena aku tak mau menjalin hubungan menyakitkan lagi.

Aku masih mencintainya, dan hubunganku yang lama tentu juga butuh waktu lama untuk menghapus namanya, untuk melupakannya tentu bukan hal yang mudah. Tapi akan.

Aku tak peduli lagi dengan status yang dibuatnya untukku. Aku takkan pulang padanya, jika itu yang diharapkannya adalah aku hadir lagi ke dalam kehidupannya dengan merendahkan harga diriku lagi. Aku sudah sering melakukan itu sebagai wanita. Aku sudah mengingkari kodratnya sebagai lelaki. Aku akan menerima jika dia datang meminta maaf aku takkan keberatan untuk memberinya kesempatan. Tapi jika ia mengharapkanku untuk itu, ia takkan menemukan apa-apa kecuali mimpi.

Aku akan berusaha menjadi sebenar-benarnya wanita. Kakakku bilang, tak perlu mencari pengganti dengan cepat. Aku harus berusaha memperbaiki diriku dulu untuk mendapatkan sosok yang lebih baik darinya. Kata kakakku, seseorang yang berusaha menjadi lebih baik akan mendapatkan yang baik juga. Semoga ucapannya itu benar karena aku percaya. Aku akan menunggu lawan yang baik. Semoga dia hadir di saat yang tepat :)

Aku berdoa lagi untuknya, semoga dia mendapatkan sosok yang tepat juga.

Aku yakin dia takkan melupakanku selama bergumul dengan forum bolanya. Karena itulah alasan kami berpisah. Semoga dia mendapatkan gadis yang menerima hobi anehnya itu :)

Siapa tahu ia mendapatkan jodoh di tribun pas nonton bareng gitu kan kaya di FTV?
Who know? Wkwkw



Tuesday, 30 August 2016

DAY 9--LOST AND FOUND



Tak ada yang berubah selama empat hari terakhir, meski aku tak menuliskan apa yang terjadi. Tak ada yang spesial dan tak ada keadaan yang membaik. Yang ada hanya pikiranku yang mulai memburuk. Karena sekarang aku menganggur. Masa kontrak kerjaku di cikarang telah berakhir. Aku hanya perlu menunggu gaji terakhirku turun—dan aku akan kembali ke jogja untuk beberapa saat.

Pengangguran dan jomblo adalah dua hal yang tak baik jika disatukan. Itu yang kurasakan.

Aku diserang kesepian sepanjang waktu. Meski mulutku berkata aku-baik-baik saja, namun hati ini tak bisa berbohong mengungkapkan rasa kesepiannya. Meski bibir ini terus tersenyum, namun sepenuhnya aku hanya berpura-pura. Meski mata ini terus berbinar, namun rasa panas karena ingin menangis itu sewaktu-waktu muncul seenaknya.

Kugunakan beberapa waktu terakhirku untuk menonton drama korea menyedihkan—hanya untuk membuat diriku menangis dan tenggelam di dalam masalahku. Namun yang ada drama itu tak cukup sedih untuk membuatku menangis. Padahal aku ingin sekali menangis saat menontonnya—agar saat temanku bertanya kenapa aku menangis, aku bisa menjawabnya karena drama itu menyedihkan. Tapi ternyata aku bukan gadis yang cukup sentimentil.

Dulu aku pikir hubungan kami takkan berakhir begini.

Dulu aku pikir setiap kami berpisah, kami pasti akan kembali bersama.

Dulu aku pikir dia begitu menyayangiku sampai tak bisa kehilanganku sama seperti yang aku rasakan.

Namun kini, aku kehilangan semua pemikiran itu.

Kita tak berakhir lebih dari sekedar teman sekarang. Tentu saja dengan aku yang masih mencintainya.

Anggap saja aku pengemis cinta. Begitu memalukan yang luar biasa aku banggakan. Menyedihkan sekali—disaat aku bingung, berpikir panjang hanya untuk membalas chat dinginnya, hanya untuk membuat chat itu tak berakhir begitu saja. Salahkah jika aku ingin kami terus berkomunikasi?

Aku hanya ingin segera pulang ke rumah dan berada dalam satu kota yang sama dengannya. Aku hanya ingin tahu—apa dia peduli? Apa dia akan mengajakku bertemu?

Meski aku tak yakin, tapi aku masih berharap.

Mungkin satu pertemuan saja bisa membuat semuanya luluh—itupun jika dia masih mencintaiku.

Menurutku—semua omong kosong tentang kepercayaan ini tak hanya terjadi padaku. Tapi dia juga, yang tak lagi percaya padaku. Mungkin saat ia mulai berpikir aku menceritakan tentang masalah pribadinya pada banyak orang. Padahal temanku sudah mengetahuinya sebelum aku bercerita—dan semua anak di kosan juga masih tak tahu kenapa kami putus sampai detik ini. Hanya teman sekamarku yang tahu. Dan satu lelaki yang sudah aku anggap seperti kakak disini. Kenapa aku bercerita pada cowok ini? Karena dia satu-satunya yang bisa memberiku solusi logis tentang segala masalah yang kerap aku ceritakan.

Tapi sungguh—aku tak pernah menganggapnya lebih dari itu.

Aku juga pernah menulis entri tentang masalahnya disini, dengan judul bad as hell. Tapi siapa yang membacanya? Bukankah kalau aku tak memposting link di salah satu timeline medsosku pun—dia takkan membuka blog ini. Apalagi orang lain? Siapa yang dia harapkan membaca omong kosong yang aku tulis.
Menulis adalah hobiku. Dan ini satu-satunya cara untuk mengurangi bebanku. Daripada aku bercerita pada orang lain yang mungkin bisa memiliki mulut ember dan membubuhi ceritaku dengan banyak komentar pedas. Aku lebih suka menuliskannya—karena huruf-huruf ini takkan berkhianat.

Dan tahu apa? Teman-temanku tak pernah berusaha menanyakan masalah apa yang terjadi pada kami. Mereka hanya menyimpulkan dengan pemikirannya sendiri dan alasan mereka membuatku tertawa miris. Yang mereka tahu—hanya aku dicampakkan karena dia menemukan wanita lain. Okelah~ aku tak apa dengan komentar itu. Itu lebih baik daripada alasan tak logis yang kami pilih.

Dan apalagi yang lucu? Bahkan semenjak konflik kami dimulai banyak temanku yang bercanda agar kami putus—agar aku bernasib jomblo sama seperti mereka. Bahkan mereka menjanjikan akan mentraktirku mcdonald sepuasnya jika hubunganku berakhir. Dan saat hubunganku benar-benar berakhir, mereka menertawakanku dan menawarkan berkali-kali janji itu. Bukannya aku tak tertarik—aku tak munafik. Aku suka ditraktir.

Itu naluri manusiawiku. Tapi asal kalian tahu—mau mereka mentraktirku steak sekalipun, sakit hatiku takkan begitu saja terobati. Seenak apapun makanan yang aku makan takkan pernah mampu membuatnya kembali ke pelukanku kan?

Ada satu komentar pedas dari temanku yang cukup mengiris batin.
Jadi ceritanya—aku memasang gambar walpaper seorang cowok korea dilaptopku, ada satu teman yang bertanya siapa cowok itu. Aku menjawabnya simpel, pacarku dan aku mengamininya—candaan basi jaman batu. Dan temanku yang lain berkomentar intinya—kalau cowok yang sekarang saja mencampakkanmu bagaimana kalau cowok yang gambarnya aku pajang itu. Heol! Ledekannya begitu tepat sasaran dan menyakitkan. Aku tak bisa mengelak.

Dan parahnya lagi—yang memberi komentar itu adalah seorang cowok. Menyebalkan bukan?

Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan diriku kalau kami benar-benar tak kembali. Bagaimana lagi aku akan bisa membuka hati untuk seorang lelaki jika sekarang semua cowok terlihat menyebalkan?
Aku tak tahu jika kehilangan bisa semenyakitkan ini.

Tapi bukankah sebelum janur kuning melengkung cinta masih bisa diperjuangkan? Meskipun aku seorang wanita?
Bolehkah aku belajar dari cara Sakura memperjuangkan cinta Sasuke?

Aku sama sekali tak ingin menemukan lelaki lain—aku tak ingin menghadirkan lelaki lain. aku hanya ingin dirinya yang dulu kembali. dirinya yang dulu penyayang—perhatian dan kadang memprioritaskanku di atas segalanya. Bukan dia yang sekarang dingin, tak peduli dan mungkin tak menyayangi dan tak mengharapkanku lagi.

Mungkin aku bisa kehilangannya untuk sekarang, tapi di lain waktu aku ingin menemukan dirinya yang dulu kembali padaku.

What you need to know is to try and let it go....
What you need to find is someone who never let you go...


Saturday, 27 August 2016

DAY 5—THE REFUSE PROMISES


Maafkan jika kau kusayangi, dan bila kumenanti. [Yang Terdalam-Peterpan]

Hari ini aku sudah menelepon ibuku untuk menceritakan semua hal yang terjadi pada kisah cintaku—dan tebak apa tanggapan beliau tentang ini semua?

Ibuku tak banyak berkomentar, beliau hanya bertanya siapa yang memutuskan hubungan kami—dan ibuku bersyukur karena bukan aku yang mengakhirinya—entah kenapa. Ibuku pun berkata tak apa kami berpisah—padahal biasanya beliau yang paling tak ingin kami berpisah namun kali ini entah kenapa lagi beliau tak keberatan. Apakah ini tanda bahwa perpisahan kami didukung oleh alam?

Hari ini aku juga mengalah dengan menghubunginya terlebih dulu. Aku mengirim pesan padanya, bertanya apakah kami akan terus lost contact dan tak bisa menjadi teman—dan jawabannya bisa. Dan tak hanya itu, dia juga bilang kalau dia akan pulang kampung sore harinya. Padahal dulunya kami sudah berjanji akan pulang kampung bersama—dan ia berkata akan menunggu kontrak kerjaku benar-benar habis dan itu masih seminggu sejak hari ini. Dia mengingkari janjinya dengan mendahuluiku pulang, membiarkanku kelak pulang sendiri. Cikarang-jogja bukan jarak yang dekat bro—kami butuh dua belas jam naik bus. Aku harus menjalani perjalanan itu sendirian lagi, untuk kedua kalinya nanti. Aku sedih, sangat sedih. Yang lalu—aku pulang sendiri karena mendesak, ibuku sakit dan aku khawatir. Sedang sekarang—aku harus pulang sendiri karena dia egois tak mau menungguku lagi.

Aku jadi berpikir, apa aku memang tak pantas untuk ditunggu?

Sejak pemikiran itu bersemayam di hatiku, rasanya ada yang tak tenang. Hatiku merasa tak tentram. Membalas chatnya aku jadi harus berpikir dua kali, aku takut salah ucap dan membuatnya semakin menjauh. Serba salah. Aku ingin tak membalasnya, tapi aku takut kami kehilangan kontak lagi. Tapi saat aku membalasnya—aku merasa percakapan kami garing. Tapi tenang—bukannya aku hanya tinggal menunggunya mengabaikan pesan-pesanku? Karena ku yakin itu benar-benar akan terjadi.
Ah, rasanya aku sangat ingin menangis sekarang.

Kalau bukan karena aku berada di dekat temanku saat aku menuliskan semua omong kosong ini. Mungkin airmata ku sudah terjun dari persinggahannya. Hidupku menyedihkan sekali ya? Disaat aku dan temanku sama-sama baru saja putus cinta—namun kisah kami sangat lain. Dia dengan hebatnya punya lelaki yang selalu memperjuangkannya meski selalu ditampik—bodoh memang tapi aku menyukai caranya berkata “suatu saat aku akan melamarmu” meski gadisnya memilih untuk pergi. Jika aku memperjuangkan cintaku kali ini dan diabaikan juga—apakah aku sama bodohnya? Sudah sebodoh apa aku sekarang?

Apa aku sudah terlihat seperti gadis putus asa yang mendambakan lelakinya kembali?
Baiklah—aku menangis untuk pertama kalinya sejak kita putus malam ini. Bukan karena perpisahan kami, tapi karena dia meninggalkanku pulang saat disini aku masih kebingungan dengan hubungan kami. Apa dia mencoba kabur? Apa dia memang tak ingin bertemu denganku lagi? Apa dia memang sedang menghindariku?

Aku tak perlu mengunggah foto menangisku kan?

Kenapa kisahku senista ini? Haruskah aku menjadikannya ide untuk naskah wattpadku nanti?

Kenapa dia selalu menggampangkan janji yang dibuatnya sendiri? Janji untuk bertanggung jawab akan kehidupanku yang sudah dirusaknya, katanya melamarmu ada dalam rencana hidupnya—aku mungkin bodoh karena menganggap semua perkataannya menjadi janji. Tapi untuk beberapa hal aku benar-benar menganggap hal itu. Dan bukankah ucapan kita selalu dicatat oleh setiap malaikat? Bukankah saat kita berkata akan melakukan sesuatu dengan seseorang berarti kita memang sedang menebar janji pada orang itu, seperti kalimat aku akan mentraktirmu, mungkin?

Dan di pertemuan kita kedua sebelum terakhir, aku memintanya untuk berjanji tak menduakanku—setia padaku, dan tak ada yang lain selain aku. Dan ia mengiyakannya—dan aku tak bisa melupakan pertanyaannya ini, “Kenapa kau masih mau denganku? Padahal aku sendiri sedang jijik dengan diriku sendiri.”

Aku bahkan tak menjawabnya dengan kata, tapi kami berpelukan waktu itu.

Dan setelah mengingkari janji untuk terus bersama—kini dia mengingkari janjinya untuk pulang kampung bersamaku, dan apa nantinya ia akan mengingkari janjinya yang lain? Dia berjanji padaku untuk datang ke taman lampion saat pulang kampung bersama—tadinya. Tapi nanti saat kita berada di kota kelahiran kami—apakah janji itu akan terealisasikan apa juga akan hangus begitu saja bersama janji-janjinya yang lain?

Aku merasa pengingkaran janji ini seperti kebohongan, saat kita berbohong sekali—maka akan tercipta kebohongan lainnya. Dan saat ini—saat dia mengingkari satu janjinya, maka ia turut serta mengingkari janji-janjinya yang lain. Jadi bukankah tepat aku menuliskan judul untuk entriku kali ini? Janji-janji sampah! Bukankah seperti itu adanya?