Thursday, 28 July 2016

BAD AS HELL!

Saat kau merasa tersakiti oleh suatu hal yang kau sendiri tak yakin terjadi, apa yang harus kau lakukan?




Aku menangis histeris karena hal yang aku sendiri tak yakin apa itu terjadi. Lelaki yang sangat aku cintai mengorbankan hal yang berharga baginya untuk wanita lain. Salahkah aku menangis? Salahkah aku jika aku merasa terkhianati oleh cinta yang aku percaya? Salahkah jika aku marah? Salahkah aku?

Detik ini—aku hanya tak tahu harus melakukan apa. Aku harus bagaimana menanggapi masalahmu. Sejujurnya, aku sangat paham jika detik ini kau pun membutuhkanku. Aku tahu kau sendiri pasti bingung dengan tingkahku yang tiba-tiba saja mendiamkanmu. Entahlah, aku hanya merasa ganjil.

Selama ini, aku sudah cukup menerima segala cerita yang kudengar, dengan apa yang terjadi denganmu. Kedekatanmu dengan gadis lain, selalu ku anggap itu hal yang wajar. Karena aku pun juga dekat dengan beberapa pria lain. Aku hanya memendamnya tanpa mempertanyakan satu katapun padamu. Aku selalu diam membiarkanku larut dalam pikiranku sendiri. Sekali—hanya sekali aku mengutarakan perasaan cemburuku pada salah satu teman. Aku kecewa sebenarnya—apa kau tak pernah mengerti, bagaimana perasaan kekasihmu saat kau bercerita dengannya kalau kau sedang dekat dengan seorang gadis?

Sebelumnya aku tak peduli. Aku selalu mengabaikannya dan berharap dalam diam kalau kau benar-benar hanya berteman dengannya. Aku berusaha untuk tak pernah cemburu.

Tapi kini, bolehkah aku cemburu?



Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan dia—dan lelaki itu. Aku tak tahu konflik seperti apa yang sebenarnya menyerangmu. Apa benar segala hal itu memang sebuah kesalah-pahaman seperti yang kau ceritakan? Apa benar semua perjumpaanmu dengannya adalah selalu sebuah kebetulan? Aku hanya bisa mencoba percaya—mencoba dan mencoba.

Pikiran ini telah jauh menyerangku sebelum semua ini terjadi.

Namun aku terlalu sering mengabaikannya dan tak ingin terluka karena ini.

Namun sekarang aku tak bisa berbohong lagi, aku terluka.

Aku tak bisa menerima kau berkelahi dengan seseorang karena seorang gadis. Dan dia bukanlah diriku. Bahkan sekarang, kau mengorbankan hal yang berharga untuknya. Bukankah gadis itu terlalu beruntung mendapatkan itu semua? Apa dia sama sekali tak sadar telah menjerumuskanmu ke dalam masalah?
Apa kau bisa menerka seberapa banyak pertanyaan yang ada di otakku saat ini? Apa kau sedang mempertanyakannya juga?

Aku sering berpikir sedekat apa kau dengannya sampai lelaki itu berpikir kalian dekat.
Aku sering berpikir apa saja yang kalian bicarakan di belakangku. Apa kau pernah membicarakan tentangku? Atau setidaknya kau bilang padanya kalau kau sendiri juga punya kekasih? Ah—aku mungkin terlalu banyak berharap, ya.

Aku yakin kau takkan pernah mengucapkan itu. Karena yang aku tau kau selalu mengubur kenyataan itu.
Aku akan sedikit sensitif untuk beberapa saat ke depan. Biarkan aku sendiri. aku hanya tak ingin menyakiti hatiku lebih jauh. Aku tak ingin melihatmu dan segala hal tentangmu—karena hal itu hanya akan mengingatkanku pada segala pembicaraan tentangnya. Aku menyesal kenapa harus mendengar setiap ceritamu. Mungkin sebentar lagi gadis itu akan mengkontakmu untuk meminta maaf. Dan kau akan memaafkannya begitu mudah—kau terkadang terlalu baik, dan aku tak siap menerima kenyataan itu.
Jadi sebenarnya seberapa dekat kalian berdua?

Apa aku harus terus percaya?

Hidup ini kadang tak adil ya. Aku yang juga punya banyak teman lelaki tanpa pernah benar-benar dekat dengan mereka harus menerima kenyataan pahit denganmu yang juga punya banyak teman wanita—yang entah kau benar-benar dekat dengan mereka atau semua seperti yang kau katakan.

Sekali lagi—yang bisa aku lakukan hanya mendengar penjelasanmu dan mencoba percaya tentang semua.
Haruskah aku mengenal gadis itu dan menanyakan semua kenyataannya?

Satu hal yang sangat ingin kulakukan saat ini. Namun aku tak ingin menjadi gadis egois karena itu. Aku tak ingin mengusik kehidupan orang lain hanya karena pemikiran bodohku.

Apa kau tahu bagaimana susahnya ku menahan tangisku di depanmu? Kenapa aku terdiam dan kenapa aku tak mengungkapkan apa yang sedang aku pikirkan? Aku hanya tak ingin semakin terluka karena jawabanmu. Namun aku tak bisa menyembunyikan lukaku begitu kita berpisah. Tangisku pecah seketika dan aku bahagia karena disini aku punya teman-teman yang menghiburku. Dan kau tau apa yang membuatku semakin terluka?

Karena disini—sahabatku sudah mengetahui semua itu dan memendamnya. Ia sengaja merahasiakannya agar aku tahu berita itu darimu. Dan dia telah mengetahuinya sejak lama.

Sekarang—hari ini. 28 Juli.

Dia mengetahuinya tepat seminggu yang lalu, 21 Juli.

Dan kau telah merahasiakannya selama itu. Kau tak ingin membuatku terluka atau kau sebenarnya tak ingin aku mengetahui semuanya?

Kenyataan apalagi yang kau sembunyikan dariku? Apa aku harus mencari tahu sendiri segala sesuatunya sekarang? Apa aku harus mendengar semua berita dari orang lain sekarang?

Bisakah kau bayangkan aku menangis disini, menangis bersama temanku yang merasa bersalah karena telah merahasiakan berita ini. Dan kau sama sekali tak merasakan itu?

Akankah aku bisa menjadi lebih terluka lagi dari sekarang?

Bisakah kau menorehkan luka yang lebih dalam lagi di hatiku?

Lebih baik lakukan sekarang, daripada nanti. Jangan buat segala sesuatunya semakin terlambat.

LET ME CRYING FOR A WHILE! I NEED MY OWN QUALITY TIME. WHY MY LIFE IS SO COMPLICATED AS IT HELL YEAAH!!!!



I CANT STOP WONDERING WHY, I COULDN'T BE THE REASON WHY ARE YOU FIGHTING FOR?

I FIND MY SELF JUST A FOOL :(



Monday, 4 July 2016

FOR YOU MY BIRTHDAY BOY

SELAMAT! Bukankah itu satu kata yang lazim terucapkan di hari spesialmu? Lalu apalagi yang bisa bersanding dengan kata itu? Untaian doa, harapan dan senandung lain tentang masa depanmu yang baik? Itu terlalu klise, aku tak ingin membicarakannya. Pastinya kau sudah tahu aku pasti berdoa untuk itu tanpa perlu menunggu hari-hari seperti ini.

credit : tumblr

Ini ulang tahunmu yang kelima bersamaku, mengejutkan bukan kita bisa melalui waktu bersama sejauh ini? Aku benar-benar tak pernah memimpikan saat-saat seperti ini singgah dalam hidupku. Itu suatu kebahagiaan tersendiri untukku.

Entah sudah seberapa sering aku mengulang tulisan-tulisan semacam ini. Ungkapan cinta yang tak pernah ada habisnya untukmu. Ucapan terimakasih karena kau selalu ada selama ini untukku, semua yang sudah kamu berikan untukku, kamu yang selalu bersabar menghadapi tingkahku. Semua ini mungkin terdengar membosankan, tapi kuharap kau selalu ingin membaca apa yang aku tulis.

Surat, puisi dan racauan lain tentangmu selalu ada dalam draftku. Aku yakin kau sudah membaca beberapa yang ada dalam folder pribadiku. Ya kan? Sudahlah kau tak perlu berbohong, aku yakin kau membacanya tanpa sepengetahuanku. Tapi aku tak merasa malu kok, kan aku tak ingin merahasiakan hal sekecil apapun denganmu.

Aku memiliki satu bingkisan kecil yang nantinya menjadi milikmu, aku tak peduli tentang harga yang mampu menggantikannya. Semoga kamu menyukainya dan tak enggan menggunakannya. Aku sengaja memilihnya karena itu nyaris sama dengan milikku. Saat aku melihatnya, aku merasa kita sedang memakai barang couple nantinya. Bukankah itu manis? Aku selalu menginginkan hal-hal seperti itu, namun aku tak ingin sesuatu yang mencolok. Dan aku pikir, yang terjadi saat ini sangat tepat untuk keinginanku yang itu. Aku merasa beruntung bisa menemukan barang itu. LOL

Sebelumnya aku meminta maaf padamu, tentang kebiasaanku akhir-akhir ini yang sering lupa membalas pesanmu. Yah, aku tahu aku sudah pernah meminta maaf sebelumnya. Aku tahu kau sudah memaafkanku dan berkata kau tak pernah menuntutku untuk terus-terusan membalasnya. Tapi percakapan kita di bus kemaren, membuatku sedikit terganggu. Saat kau bilang—responnya lama banget, sepuluh menit kemudian....—gitu.

Maaf aku terlalu sibuk dengan duniaku yang tak ingin aku tinggalkan ini. Ini kebahagiaan baruku, kau kan akan mendukung hal-hal yang membuatku bahagia kan? Yayaya. I know, you will.

Apalagi ya?

Aku tidak pernah bosan bersanding denganmu.

Aku hanya ingin menegaskan. Karena aku pikir, sikapku yang sering mengabaikanmu akhir-akhir ini seperti menggambarkan kesan semacam itu. Aku tegaskan sekali lagi—aku hanya terlalu sibuk dengan duniaku.
Aku masih menunggu kok :)

Menunggu sampai datang saatnya kau hadir di pintu rumahku, bersama orangtua dan beberapa kerabat dekatmu. Menyiapkan kata-kata magis yang bisa membuatku deg-degan, melihatmu menjabat tangan ayahku sembari memintaku menjadi milikmu seutuhnya. Hari itu akan hadir kan? Aku tak sabar menunggunya—meski aku belum menginginkan hal itu sekarang.

Aku tak ingin kau terburu-buru. Aku hanya sering menuntut, tanpa pernah benar-benar menginginkannya datang di waktu dekat. I’m not ready at all~ i’m just kidding ^^

Ini bukan ungkapan selamat ulang tahun lho...

Aku hanya ingin menulis surat untukmu yang kebetulan ingin aku sampaikan di hari ulang tahunmu. Nggak ada salahnya kan?

Kau tahu? Aku mungkin terkadang terlihat gila dengan semua kegiatanku. Terimakasih ya karena kamu sering penasaran dengan apa yang aku lakukan—penasaran dengan apa yang aku kerjakan. Meski aku tak pernah ingin menunjukkannya padamu tentang itu. Terimakasih karena dengan perilakumu itu, aku tahu kau sedang peduli. Kau peduli padaku? Ahaha ini terdengar manis. Aku merasa menjadi gadis yang sangat beruntung—sekali lagi.

Mungkin aku terkadang iri dengan kekasih orang-orang yang ada di dekatku yang selalu menyempatkan diri untuk kekasihnya demi hal-hal yang tidak penting. Mereka yang memohon maaf untuk dirinya sendiri atas kesalahan-kesalahan yang sebenarnya bukan salah mereka sepenuhnya. Mereka yang dituntut untuk terus memberi kabar setiap saat. Mereka yang dituntut untuk terus menuruti omongan wanitanya yang terkadang tak terdengar masuk akal. Aku terkadang iri—namun, aku tak ingin kau menjadi seperti itu.

Aku ingin kau menjadi lelakiku yang selalu menang dengan pikiranmu yang logis. Tolong jangan pernah berlalu dengan amarahku yang terkadang menyudutkanmu. Aku tak ingin kau menjadi lelaki bodoh yang menggantungkan dirimu pada wanita sepertiku. Aku ingin kau yang selalu memenangkan pertikaian kita tanpa membuatku bersedih tentu saja—maksudku tolong jangan pernah merendahkan harga dirimu padaku, mari kita buat kesepakatan untuk semua pertikaian yang terjadi antara kita. Mengalahlah tanpa harus menjadi kalah :)

Aku sedang berusaha menjadi dewasa. Aku sedang belajar menerima segala hal yang tak selalu sesuai dengan harapanku.

Aku sedang berusaha selalu mengontrol diri setiap kau melakukan hal yang menurutku salah, aku akan selalu membuka pintu maafku tentu saja. Hanya saja terkadang aku membutuhkan banyak waktu untuk menetralkannya. Yah—kau tahu sendiri.

Semoga kau tak pernah lelah menghadapi tingkahku yang suka berubah-ubah. Tapi itu hanya tingkah dan perilaku.

Untuk hati, pikiran dan rasaku—aku tak ingin merubahnya. Aku ingin itu tetap stabil pada ritmenya. Tak kurang dan tak berlebihan, aku ingin selalu begitu. Menyayangimu tanpa harus terlalu menyayangimu. Menginginkanmu tanpa harus terlalu menginginkanmu. Kuharap kau tahu maksutku.

Then....
credit : Tumblr

Happy birthday, my bro-mate! Always be my sunshine, okay?

Yang selalu bersinar dihariku, tapi jangan jadi menyilaukan karena aku tak siap jika aku harus menutup mata xD



Thanks anyway,


[I N D A H]