Tuesday, 30 August 2016

DAY 9--LOST AND FOUND



Tak ada yang berubah selama empat hari terakhir, meski aku tak menuliskan apa yang terjadi. Tak ada yang spesial dan tak ada keadaan yang membaik. Yang ada hanya pikiranku yang mulai memburuk. Karena sekarang aku menganggur. Masa kontrak kerjaku di cikarang telah berakhir. Aku hanya perlu menunggu gaji terakhirku turun—dan aku akan kembali ke jogja untuk beberapa saat.

Pengangguran dan jomblo adalah dua hal yang tak baik jika disatukan. Itu yang kurasakan.

Aku diserang kesepian sepanjang waktu. Meski mulutku berkata aku-baik-baik saja, namun hati ini tak bisa berbohong mengungkapkan rasa kesepiannya. Meski bibir ini terus tersenyum, namun sepenuhnya aku hanya berpura-pura. Meski mata ini terus berbinar, namun rasa panas karena ingin menangis itu sewaktu-waktu muncul seenaknya.

Kugunakan beberapa waktu terakhirku untuk menonton drama korea menyedihkan—hanya untuk membuat diriku menangis dan tenggelam di dalam masalahku. Namun yang ada drama itu tak cukup sedih untuk membuatku menangis. Padahal aku ingin sekali menangis saat menontonnya—agar saat temanku bertanya kenapa aku menangis, aku bisa menjawabnya karena drama itu menyedihkan. Tapi ternyata aku bukan gadis yang cukup sentimentil.

Dulu aku pikir hubungan kami takkan berakhir begini.

Dulu aku pikir setiap kami berpisah, kami pasti akan kembali bersama.

Dulu aku pikir dia begitu menyayangiku sampai tak bisa kehilanganku sama seperti yang aku rasakan.

Namun kini, aku kehilangan semua pemikiran itu.

Kita tak berakhir lebih dari sekedar teman sekarang. Tentu saja dengan aku yang masih mencintainya.

Anggap saja aku pengemis cinta. Begitu memalukan yang luar biasa aku banggakan. Menyedihkan sekali—disaat aku bingung, berpikir panjang hanya untuk membalas chat dinginnya, hanya untuk membuat chat itu tak berakhir begitu saja. Salahkah jika aku ingin kami terus berkomunikasi?

Aku hanya ingin segera pulang ke rumah dan berada dalam satu kota yang sama dengannya. Aku hanya ingin tahu—apa dia peduli? Apa dia akan mengajakku bertemu?

Meski aku tak yakin, tapi aku masih berharap.

Mungkin satu pertemuan saja bisa membuat semuanya luluh—itupun jika dia masih mencintaiku.

Menurutku—semua omong kosong tentang kepercayaan ini tak hanya terjadi padaku. Tapi dia juga, yang tak lagi percaya padaku. Mungkin saat ia mulai berpikir aku menceritakan tentang masalah pribadinya pada banyak orang. Padahal temanku sudah mengetahuinya sebelum aku bercerita—dan semua anak di kosan juga masih tak tahu kenapa kami putus sampai detik ini. Hanya teman sekamarku yang tahu. Dan satu lelaki yang sudah aku anggap seperti kakak disini. Kenapa aku bercerita pada cowok ini? Karena dia satu-satunya yang bisa memberiku solusi logis tentang segala masalah yang kerap aku ceritakan.

Tapi sungguh—aku tak pernah menganggapnya lebih dari itu.

Aku juga pernah menulis entri tentang masalahnya disini, dengan judul bad as hell. Tapi siapa yang membacanya? Bukankah kalau aku tak memposting link di salah satu timeline medsosku pun—dia takkan membuka blog ini. Apalagi orang lain? Siapa yang dia harapkan membaca omong kosong yang aku tulis.
Menulis adalah hobiku. Dan ini satu-satunya cara untuk mengurangi bebanku. Daripada aku bercerita pada orang lain yang mungkin bisa memiliki mulut ember dan membubuhi ceritaku dengan banyak komentar pedas. Aku lebih suka menuliskannya—karena huruf-huruf ini takkan berkhianat.

Dan tahu apa? Teman-temanku tak pernah berusaha menanyakan masalah apa yang terjadi pada kami. Mereka hanya menyimpulkan dengan pemikirannya sendiri dan alasan mereka membuatku tertawa miris. Yang mereka tahu—hanya aku dicampakkan karena dia menemukan wanita lain. Okelah~ aku tak apa dengan komentar itu. Itu lebih baik daripada alasan tak logis yang kami pilih.

Dan apalagi yang lucu? Bahkan semenjak konflik kami dimulai banyak temanku yang bercanda agar kami putus—agar aku bernasib jomblo sama seperti mereka. Bahkan mereka menjanjikan akan mentraktirku mcdonald sepuasnya jika hubunganku berakhir. Dan saat hubunganku benar-benar berakhir, mereka menertawakanku dan menawarkan berkali-kali janji itu. Bukannya aku tak tertarik—aku tak munafik. Aku suka ditraktir.

Itu naluri manusiawiku. Tapi asal kalian tahu—mau mereka mentraktirku steak sekalipun, sakit hatiku takkan begitu saja terobati. Seenak apapun makanan yang aku makan takkan pernah mampu membuatnya kembali ke pelukanku kan?

Ada satu komentar pedas dari temanku yang cukup mengiris batin.
Jadi ceritanya—aku memasang gambar walpaper seorang cowok korea dilaptopku, ada satu teman yang bertanya siapa cowok itu. Aku menjawabnya simpel, pacarku dan aku mengamininya—candaan basi jaman batu. Dan temanku yang lain berkomentar intinya—kalau cowok yang sekarang saja mencampakkanmu bagaimana kalau cowok yang gambarnya aku pajang itu. Heol! Ledekannya begitu tepat sasaran dan menyakitkan. Aku tak bisa mengelak.

Dan parahnya lagi—yang memberi komentar itu adalah seorang cowok. Menyebalkan bukan?

Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan diriku kalau kami benar-benar tak kembali. Bagaimana lagi aku akan bisa membuka hati untuk seorang lelaki jika sekarang semua cowok terlihat menyebalkan?
Aku tak tahu jika kehilangan bisa semenyakitkan ini.

Tapi bukankah sebelum janur kuning melengkung cinta masih bisa diperjuangkan? Meskipun aku seorang wanita?
Bolehkah aku belajar dari cara Sakura memperjuangkan cinta Sasuke?

Aku sama sekali tak ingin menemukan lelaki lain—aku tak ingin menghadirkan lelaki lain. aku hanya ingin dirinya yang dulu kembali. dirinya yang dulu penyayang—perhatian dan kadang memprioritaskanku di atas segalanya. Bukan dia yang sekarang dingin, tak peduli dan mungkin tak menyayangi dan tak mengharapkanku lagi.

Mungkin aku bisa kehilangannya untuk sekarang, tapi di lain waktu aku ingin menemukan dirinya yang dulu kembali padaku.

What you need to know is to try and let it go....
What you need to find is someone who never let you go...


Saturday, 27 August 2016

DAY 5—THE REFUSE PROMISES


Maafkan jika kau kusayangi, dan bila kumenanti. [Yang Terdalam-Peterpan]

Hari ini aku sudah menelepon ibuku untuk menceritakan semua hal yang terjadi pada kisah cintaku—dan tebak apa tanggapan beliau tentang ini semua?

Ibuku tak banyak berkomentar, beliau hanya bertanya siapa yang memutuskan hubungan kami—dan ibuku bersyukur karena bukan aku yang mengakhirinya—entah kenapa. Ibuku pun berkata tak apa kami berpisah—padahal biasanya beliau yang paling tak ingin kami berpisah namun kali ini entah kenapa lagi beliau tak keberatan. Apakah ini tanda bahwa perpisahan kami didukung oleh alam?

Hari ini aku juga mengalah dengan menghubunginya terlebih dulu. Aku mengirim pesan padanya, bertanya apakah kami akan terus lost contact dan tak bisa menjadi teman—dan jawabannya bisa. Dan tak hanya itu, dia juga bilang kalau dia akan pulang kampung sore harinya. Padahal dulunya kami sudah berjanji akan pulang kampung bersama—dan ia berkata akan menunggu kontrak kerjaku benar-benar habis dan itu masih seminggu sejak hari ini. Dia mengingkari janjinya dengan mendahuluiku pulang, membiarkanku kelak pulang sendiri. Cikarang-jogja bukan jarak yang dekat bro—kami butuh dua belas jam naik bus. Aku harus menjalani perjalanan itu sendirian lagi, untuk kedua kalinya nanti. Aku sedih, sangat sedih. Yang lalu—aku pulang sendiri karena mendesak, ibuku sakit dan aku khawatir. Sedang sekarang—aku harus pulang sendiri karena dia egois tak mau menungguku lagi.

Aku jadi berpikir, apa aku memang tak pantas untuk ditunggu?

Sejak pemikiran itu bersemayam di hatiku, rasanya ada yang tak tenang. Hatiku merasa tak tentram. Membalas chatnya aku jadi harus berpikir dua kali, aku takut salah ucap dan membuatnya semakin menjauh. Serba salah. Aku ingin tak membalasnya, tapi aku takut kami kehilangan kontak lagi. Tapi saat aku membalasnya—aku merasa percakapan kami garing. Tapi tenang—bukannya aku hanya tinggal menunggunya mengabaikan pesan-pesanku? Karena ku yakin itu benar-benar akan terjadi.
Ah, rasanya aku sangat ingin menangis sekarang.

Kalau bukan karena aku berada di dekat temanku saat aku menuliskan semua omong kosong ini. Mungkin airmata ku sudah terjun dari persinggahannya. Hidupku menyedihkan sekali ya? Disaat aku dan temanku sama-sama baru saja putus cinta—namun kisah kami sangat lain. Dia dengan hebatnya punya lelaki yang selalu memperjuangkannya meski selalu ditampik—bodoh memang tapi aku menyukai caranya berkata “suatu saat aku akan melamarmu” meski gadisnya memilih untuk pergi. Jika aku memperjuangkan cintaku kali ini dan diabaikan juga—apakah aku sama bodohnya? Sudah sebodoh apa aku sekarang?

Apa aku sudah terlihat seperti gadis putus asa yang mendambakan lelakinya kembali?
Baiklah—aku menangis untuk pertama kalinya sejak kita putus malam ini. Bukan karena perpisahan kami, tapi karena dia meninggalkanku pulang saat disini aku masih kebingungan dengan hubungan kami. Apa dia mencoba kabur? Apa dia memang tak ingin bertemu denganku lagi? Apa dia memang sedang menghindariku?

Aku tak perlu mengunggah foto menangisku kan?

Kenapa kisahku senista ini? Haruskah aku menjadikannya ide untuk naskah wattpadku nanti?

Kenapa dia selalu menggampangkan janji yang dibuatnya sendiri? Janji untuk bertanggung jawab akan kehidupanku yang sudah dirusaknya, katanya melamarmu ada dalam rencana hidupnya—aku mungkin bodoh karena menganggap semua perkataannya menjadi janji. Tapi untuk beberapa hal aku benar-benar menganggap hal itu. Dan bukankah ucapan kita selalu dicatat oleh setiap malaikat? Bukankah saat kita berkata akan melakukan sesuatu dengan seseorang berarti kita memang sedang menebar janji pada orang itu, seperti kalimat aku akan mentraktirmu, mungkin?

Dan di pertemuan kita kedua sebelum terakhir, aku memintanya untuk berjanji tak menduakanku—setia padaku, dan tak ada yang lain selain aku. Dan ia mengiyakannya—dan aku tak bisa melupakan pertanyaannya ini, “Kenapa kau masih mau denganku? Padahal aku sendiri sedang jijik dengan diriku sendiri.”

Aku bahkan tak menjawabnya dengan kata, tapi kami berpelukan waktu itu.

Dan setelah mengingkari janji untuk terus bersama—kini dia mengingkari janjinya untuk pulang kampung bersamaku, dan apa nantinya ia akan mengingkari janjinya yang lain? Dia berjanji padaku untuk datang ke taman lampion saat pulang kampung bersama—tadinya. Tapi nanti saat kita berada di kota kelahiran kami—apakah janji itu akan terealisasikan apa juga akan hangus begitu saja bersama janji-janjinya yang lain?

Aku merasa pengingkaran janji ini seperti kebohongan, saat kita berbohong sekali—maka akan tercipta kebohongan lainnya. Dan saat ini—saat dia mengingkari satu janjinya, maka ia turut serta mengingkari janji-janjinya yang lain. Jadi bukankah tepat aku menuliskan judul untuk entriku kali ini? Janji-janji sampah! Bukankah seperti itu adanya?

Friday, 26 August 2016

DAY 4—ALREADY MISSING HIM



Masih bertahan untuk tidak menangis.

Tapi masih terlalu bodoh untuk selalu membuka riwayat chat kami masih berminat untuk tahu kapan terakhir kali ia melihat chat itu juga. Dan senangnya ia masih melakukan itu juga—meski hasratnya untuk menghubungiku tetap tak ada sampai detik ini. Apa jika kami benar-benar berpisah kami takkan saling mengenal lagi? Apa dia tak ingin kami berteman? Apa dia sudah tak ingin mengenalku sama-sekali? Padahal baru hari keempat, namun aku tak mengerti kenapa perasaanku bisa segelisah ini.

Omong kosong yang sering aku baca di banyak artikel tentang menjaga jodoh orang lain kini sedang menghantuiku.

Dan aku jera, mendengarkan lagu-lagu galau yang tak sengaja dimainkan dari ponsel salah satu teman—dan entah kenapa segalanya terasa ditujukan untukku. Dan saat membaca cerita di wattpad, banyak juga yang secara kebetulan sedang sama seperti kisahku. Pacaran bertahun-tahun dan berakhir begitu saja—stuck di tempat, gagal move on, jones and whatever that i don’t want it happen to me.



Pikiranku juga tak berhenti untuk flashback—mengenang segala hal yang telah kami lalui bersama selama ini. Dari semenjak kita jadian kelas dua SMA—backstreet dua tahun. Aku rasa dia sudah tak mengingat saat-saat itu. Boro-boro mengingat itu, mengingatku saja untuk waktu ini sepertinya ia tak bersedia L

Ada waktu dimana kami telah lulus dan kami menjalani LDR—long distance relationship—Cikarang-Jogja saat dimana cinta kami benar-benar diuji untuk saling setia. Tapi pada akhirnya setia itu hanya akan mengecewakan kalau semua juga berakhir dengan kata putus juga. Fakuy kan? Pengen ketawa garing rasanya—pengen unjuk gigi sampai kering biar bisa nahan tangis L

Waktu itu aku sering komunikasi sama sepupunya dan saking dekatnya kami sampai dia ngira kami ada hubungan spesial—dia cemburu dan buat aku nggak terima saat itu. Aku juga nggak terima kenapa dia nggak percaya sama aku, dan aku pun sempat mengutarakan omong kosong tentang cinta tanpa kepercayaan itu nggak ada artinya juga. Dan aku juga menyatakan kalimat perpisahan waktu itu. Tapi dia kembali!

Setelah sehari kami putus, malamnya dia menghubungiku via telepon dan dia juga sempat menangis karena tak ingin hubungan kami berakhir. Padahal waktu itu—hubungan kami mungkin baru jalan akan tiga tahun. Dan aku sempat bahagia karena dia semanis itu. Namun sekarang—setelah kami melalui banyak hal selama lima puluh dua bulan (lima puluh dua bulan—aku sengaja mengulanginya hanya untuk kalian berpikir betapa lamanya waktu itu) itu sekitar empat setengah tahun. Dan hal yang sama terjadi lagi dan kini ia tak mempertahankanku. Bahkan tak mencoba berteman denganku.

Bolehkah aku menangis sekarang?

Aku tak tahu apa aku bisa mengubah takdir kami. Mungkin jika aku mau menghubunginya lebih dulu—aku bisa melangkah one step closer, but i won’t.

Aku tak ingin kepala besarnya menjadi semakin besar. Bagaimana dia akan melalui pintu kamarnya nanti? Aku tak ingin dia menjadi sombong karena berhasil menaklukan—dan sekali lagi aku tak ingin dia melupakan takdirnya sebagai seorang lelaki.

Tapi jika dia memang benar-benar menginginkan apa yang tak kuinginkan.......
Biarkan aku menghela nafas sejenak untuk berpikir karena ini terlihat terlalu pelik karena aku belum membayangkannya, karena aku belum yakin apa yang akan aku lakukan. But i promise, i’ll be fine. Tapi aku tak ingin galau dengan mendengarkan Someone Like You-nya Adele—dan aku tak tahu bagaimana lagi cara untuk menemukan sosok untuk menjadi jodohku.

Aku tak tahu dan tak mau tahu.

Sekarang—aku sama sekali tak punya teman lelaki yang benar-benar dekat. Aku selalu menjaga diri untuk tidak menggunakan hati ketika berteman. Aku cewek yang gampang risih bila didekati—bahkan saat aku tahu ada lelaki lain selain dirinya yang menyukaiku, aku malah ilfeel dan sebisa mungkin menjauh dari orang itu.

Aku juga selalu risih bila ditakdirkan untuk berdua bersama lelaki, meski itu hanya semesin berdua—berada di kosan berdua, atau diutus untuk cari makanan berdua. Aku hanya tak tahu bagaimana caranya untuk bersikap. Segala kecanggungan datang begitu saja tanpa kuminta—dan aku tak tahu bagaimana cara untuk mengusir kecanggungan itu.

Aku sampai heran—bagaimana mungkin dia mampu makan berdua bersama cewek lain di suatu tempat?

Tapi itu masalalu.

Toh sekarang aku bukan siapa-siapanya J

Aku juga hanya bagian masalalunya—yang mengharapkan masa depan bersamanya. Naif memang. Namun menjadi mantan saja sudah cukup. Aku tak berharap lebih—karena berharap itu akan menimbulkan kekecewaan lain, seperti apa yang sudah kuungkapkan di entriku sebelum ini. Namun aku belum berhenti berharap—dan entah kapan aku akan berhenti.

Sekarang pilihan yang aku punya hanya dua—satu melangkah maju atau dua tetap tinggal menunggu—sebenarnya, atau tiga—memperjuangkan cinta yang tak mau memperjuangkanmu, tapi aku tak mau menambahkan itu dalam opsiku. Karena sekali lagi aku tak ingin dicampakkan kembali, dan mungkin ia tak pernah tahu bagaimana rasanya dicampakkan. Namun rasanya—aku selalu dicampakkan ya. Dari yang pertama sampai kini yang keempat kalinya. Akankah aku menemui takdir kelima? Bisakah aku berhenti di nomor empat? Untuk selama-lama-lama-lama-lama-lamanya?

Adakah yang bersedia menamparku? Untuk menyadarkanku kalau aku hanya seorang mantan?

Kembali ke pilihan hidupku, bodohnya aku memilih pilihan kedua. MENUNGGU.

Aku akan menatapnya dari jauh—mencari informasi sebisa mungkin tentang kehidupannya menjadi fangirl di dunia nyata. Mungkin nantinya aku akan melihatnya mulai melebarkan sayap dan belajar mengepakkannya. Hingga akhirnya dia terbang dan bertemu burung lain yang mungkin lebih baik dariku—kemudian berlalu bersamanya. Dan aku akan dengan setia disini meniti bekas persinggahannya.


Rasanya pengen nangis baca dongeng yang aku buat sendiri.

Ya Allah semoga apa yang aku tulis baru saja tak pernah terjadi, amin J

Bolehkah aku menangis sekarang?

Tidak. Aku belum menangis karena sampai detik ini aku belum menelepon ibuku untuk menceritakan semua. Aku tak sanggup—ibuku terlalu menyayangi mantan-calon-menantunya itu. dan aku yakin telingaku akan jera dengan nasihat beliau yang akan memintaku mengalah. Bolehkah aku mengatai lelaki itu brengsek karena hanya memutuskan hubungan denganku lewat chat dan tak membalas pesan terakhirku yang panjangnya mungkin separagraf ini?

YA TUHAN APALAGI YANG AKU HARAPKAN DARI LELAKI INI?

Tapi aku merindukannya L

Meski aku tak bisa menjadi sosok yang dirindukannya. All that i know is i don’t know how to be something you miss. I never thought we’d have a last kiss. Never imajined we’d end like this—you’re name forever the name on my lips. Ooooh fyi, i can’t stop listening and singing this song L





Thursday, 25 August 2016

HUG ME [CHANYEOL EXO] LYRIC







seoreo-un mameul mot igyeo
i can’t overcome the sadness in my heart
jam mot deuldeon eodun bammeul ddo gyeondigo
another one of my sleepless nights, i endure it once more
nae jeolmanggwan sanggwan eobsi
i really dont mind the sadness
musimhagedo achimeun nal kkaeune
it absentmindedly wakes me up again in the morning
sangcheoneun saenggakboda sseurigo
the injury seems worse than i thought it’d be
apeumeun saenggak boda gipeoga
the pain seems to dig in deeper than i thought it would
neol wonmanghadeon sumanhaeun i naegen jiokgata
in the countless nights i spent resenting you, it feels like i’m in hell

nae geote isseojweo naege neomuleo jweo
please just stay by my side, please remain here
nae soneul jabeun nal nohchiji malajweo
don’t let go of my hand as you’re holding it in yours
ireoke niga hangeoleum meoleojimyeon
if this takes you a step further away from me
naega hangeoleum deo gamyeon dwejanha
all i have to do is take a step closer, isn’t it?

haruedo sucheon beonssik
a thousand times in a day
ni moseubeul dwe nweigo saenggakhaesso
your face repeatly appears in my thoughts
naege haessdeon mojin maldeul
the sharp words you said to me
geu ssaneulhan nun bicchagaun pyojeongdeul
those empty eyes, that cold expression
neon cham yeppeum saram ieossjanha
you’re quite a pretty person, aren’t you?
neon cham yeppeum saram ieossjanha
you’re quite a pretty person, arent you?
jebal naege ireoji malajweo neon nal jal aljanha
please don’t do this to me. you know me well enough, don’t you?

nae gyeote isseojweo naege meomuleojwo
please just stay by my side, please remain here
ne soneul jabeun nal nohchiji malajweo
don’t let go of my hand as you’re holding it in yours
ireohke niga hangeoleum meoleo jimyeon
if this takes you a step further away from me
naega hangeoleum deo gamyeon dwejanha
all i have to do is take a step closer, isn’t it?

naegen naega eobseo nan jasini eobseo
i’m not being my self, i don’t have the confidence
niga eobsneun haru gyeondil suga eobseo
i can’t endure it any longer the days without you
ijen mweol eoddeohke haeya halji
what now, what do i do now
mereugesseo niga eobsneun nan
i really don’t know, i’m nothing without you

geunnyang nal anajweo nareul jom anajweo
please just hug me, hug me even for a while
amu mal malgoseo naege dallyeowajweo
without any words, please just run towards me
werobgo bulanhagiman nan mameuro
with my lonely and uneasy heart
ireohke neol gidarigo issjanha
i’m still here waiting for you
nan neoreul saranghae, nan neoreul saranghae
i love you, i love you
gin chimmok sokeseo sori nae wechilge
i shout  it out after staying in this long silence
eoriseokgo nayakhagiman han nae maeumeul
it may seem weak and childish but it’s my true feelings



Karena aku mencoba mencari lirik ini dan nggak nemu satupun di web, maka aku mencoba menyalinnya dan mempostingnya di web. 

Aku menyalin liriknya dari video ini.

credit : youtube


It's a great song tbh, dan lagu ini masih pas banget buat aku saat ini. Dan itulah alasan kenapa aku menulis entri ini. 

Thanks for who's writing this great song!

DAY 3—HEART’S FEELING HURT





Hari ketiga dan masih belum menangis, bukankah ini suatu rekor untukku yang baru saja putus cinta? Karena biasanya detik itu juga pasti aku akan menangis bahkan sampai meraung-raung. Aku hanya merasa perpisahan kita takkan terjadi—dan aku berharap hubungan kami akan kembali baik-baik saja seperti biasanya. Namun ini sudah hari ketiga semenjak kami sepakat untuk hal itu dan dia masih tak menghubungiku sama sekali, lalu akankah harapanku menjadi nyata?

Pikiranku bahkan tak mampu menjawabnya. Segala hal tentangnya sekarang terasa sangat abu-abu. Aku mencoba berpikiran positif seperti apa yang kerap disarankannya, namun—aku takut kalau aku terlalu banyak berharap. Aku takut jika pada akhirnya aku akan dua kali merasa kecewa—dua kali merasa terluka.
Sekarang saja sudah terasa sakitnya, apalagi jika ada kali keduanya. Mungkin ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

Sama menyakitkannya dengan hanya melihatnya mengganti display picture BBMnya dengan ilustrasi seorang cowok yang mati-matian membantu seorang cewek untuk mendaki sebuah tebing, lalu si cewek meninggalkannya setelah sampai puncak. Omong kosong sekali kan? Aku jadi bertanya-tanya apakah dia merasa seperti itu—padahal dia sendiri yang menginginkan perpisahan kami. Dia yang ingin berpisah dariku—dia yang tak menginginkanku. Bolehkah aku berkata kasar sekarang? Bolehkah aku mengumpat? Haish, mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu baper ya?

Entah kenapa lagi, aku seperti mendengarnya menyanyikan lagu Raisa yang Serba Salah di depan wajahku. Bayangannya berkata, “Bukan ku tak berharap kembali padamu, tapi pahami ku tak ingin ku tak ingin terluka.”

Imajinasi liar dalam otakku berkembang sangat pesat, dan ini menyedihkan.

Hari ini berita tentangku yang baru saja berstatus single menyebar begitu saja di tempat kerja, seperti ada viral yang membuatnya booming—dan viral itu berasal dari mulut besar teman terdekatku. Tapi aku baik-baik saja. Bahkan beberapa dari mereka cukup menghiburku dengan beberapa saran dan bermacam-macam ejekan—seakan menjadi single adalah sebuah aib yang harus ditutupi.

Bahkan mulut besarnya membuat leader grupku mengucapkan turut berduka cita—dan dari situ aku mengumpat dengan segala makian yang biasa aku ucapkan untuk teman dekatku itu. But i’m totally fine J
Leaderku bilang, seseorang yang sudah menjalin kasih selama yang kujalani pasti sebisa mungkin menemukan jalannya untuk kembali bersama. I hope so, but i dont think so—mengingat sikapnya yang sampai detik ini tak menginginkanku, membuat rasa tercampakkan terus menghantuiku dan sekali lagi—itu rasanya sangat sakit.

Beberapa orang berkata, “Cowok masih banyak, Ndah. Kamu pasti dapat yang lebih baik dari mantan kamu itu.”

Klise.

Tapi aku tak mengharapkan siapapun untuk menggantikannya, karena cita-cita terbesar dalam hidupku saat ini adalah ‘menikah dengannya’. Namun sekali lagi, mengingat dirinya yang masih enggan untuk menghubungiku sepertinya cita-cita itu hanya akan berakhir sebatas mimpi.

Wednesday, 24 August 2016

DAY 2—BROKEN UP

credit : youtube


Sampai detik ini aku masih bertahan tanpa setitik pun air mata mengalir di pipiku. Bukan karena aku kuat, tapi aku memang berusaha untuk tak menangis. Bukannya aku tak sedih, hanya saja aku sedang menjadi sok kuat. Berakting tegar di depan semua orang dengan senyum palsu yang tak pernah aku samarkan, setidaknya dengan inilah caraku bahagia untuk saat ini. Tapi tetap saja kebahagiaan itu palsu—karena sumber kebahagiaanku sedang berlalu.

Sekali lagi aku merasa bodoh.

Aku tetap meyakini statemenku yang sering aku sebutkan tentang dua orang yang saling mencintai tapi kemudian memutuskan untuk berpisah adalah suatu kebodohan. Aku selalu percaya kalau cinta bisa menaklukan semuanya, baik itu ego maupun harga diri yang dijunjung tinggi-tinggi atau bahkan kepercayaan yang telah runtuh.

Tapi semenjak perpisahan akan hubungan percintaanku terjadi—kini aku menyadari bahwa dalam suatu hubungan bukan hanya cinta yang dibutuhkan. Dan cinta pun tak selamanya mampu mempengaruhi ego, harga diri maupun kepercayaan. Tapi semua bisa bergantung padanya kalau dalam diri kita sendiri menginginkan adanya perubahan. Tapi faktanya, tak semua orang mau berubah.

Sama halnya yang terjadi antaraku dan lelaki yang sampai detik ini aku cintai.

Kami sama-sama saling mencintai, tapi kita tak mau berubah untuk saling melengkapi. Aku sebenarnya mau. Tapi sikapnya yang ganjil membuatku urung. Keegoisan kami berakhir menjadi benalu yang kemudian memerangi setiap ungkapan cinta. Caranya mengagungkan harga diri membuatnya urung untuk mempertahankanku sebagai gadisnya.

Tapi tak apa :)

Jika bisa diceritakan, sebenarnya sangatlah sulit menahan airmata ini untuk jatuh. Terkadang aku sampai pada fase dimana hidungku sudah memanas dengan airmata yang mulai naik ke permukaan. Namun dengan keras kepala aku menarik-ulur nafasku membuat diri sendiri merasa tenang hingga keinginan untuk menangis itu kembali terkubur.

Sebenarnya tak ada salahnya kan aku menangis?

Aku terluka dan aku sangat tahu bagaimana luka itu menggores bagian dalam hatiku yang telah jauh kususun rapi dengan kenangan dan angan yang kini seakan merengek untuk dihancurkan. Aku hanya tak rela mereka pergi meninggalkanku begitu saja bersama pemilik yang sudah tak ingin lagi merawatnya. Dicampakkan, beginikah namanya?

Dalam kurun waktu satu tahun—aku telah diperlakukan seperti ini selama dua kali. di waktu pertama, aku sedih dan depresi. Aku menelepon ibuku di tengah malam hanya untuk menceritakan bagaimana kandasnya hubunganku yang malangnya diakhiri oleh sang lelaki. Tapi sekarang, aku lebih merasa waras untuk tak melakukan itu. sebelumnya aku sudah bilang pada ibuku, bagaimana jika hal ini terjadi dan voila—hal itu benar terjadi.

Aku sudah pernah berjanji untuk menjaga hubunganku dengannya. Karena dulunya aku hanya seorang gadis labil yang sarat akan emosi, aku akan sering mengucap kata putus dan terkadang itu membuatnya murka. Dan entah apa yang aku katakan—aku berjanji untuk takkan mengucapkan kata itu lagi dan aku berhasil menepatinya sampai detik ini.

Namun yang terjadi—seperti yang tadi aku bilang. Dalam waktu satu tahun aku dicampakkan dua kali. itu berarti hakku untuk membicarakan kata itu sudah diambil alih olehnya. Dan semua keputusan akan berlangsung tidaknya hubungan kami ada ditangannya. Dan kemarin—dia menginginkan perpisahan itu terjadi. Aku dicampakkan lagi.

Tadinya aku bingung akan apa yang harus kuperbuat. Haruskah aku mempertahankannya dengan menghubunginya terlebih dulu?

Namun aku mengurungkan niatku. Salah satu temanku bilang—lelaki yang memutuskan hubungan dengan gadisnya itu tak seharusnya kau kejar. Biarkan dia mengejarmu kalau dia memang berniat mempertahankanmu, beri dia waktu untuk mencari jawaban.

Dia—temanku, membicarakan bagaimana mulut seorang lelaki harus dikontrol. Bayangkan kalau kalian sudah bersuami istri dan kau harus bersanding dengan lelaki yang gemar melemparkan ucapan perpisahan seperti itu—maka akan berapa singkat banyak waktu yang kau butuhkan untuk mendapatkan talak?
Mulut lelaki itu pisau. Walaupun terkadang tak menyakitkan tapi ia punya hak paten untuk memutuskan sesuatu. Dan dia bilang—mulut lelakiku harus diuji.

Dan dari sana aku tak yakin—apakah mungkin gadis sepertiku akan dipertahankannya?

Alasannya berpisah denganku klise—karena kepercayaanku yang luntur. Aku memang akhir-akhir ini tak mampu percaya 100% seperti aku mempercayainya dulu. Tapi setelah aku pikir-pikir, seseorang yang sudah berumahtangga pun takkan cerai dengan alasan sepele itu kan?

Apa itu hanya alasannya hanya untuk memisahkan diri dariku?

Apa dia memang sudah jera padaku?

Dia memintaku untuk tak pernah berpikiran negatif, tapi saat aku berpikiran positif tentangnya yang akan mempertahankan hubungan kami rasanya semu juga. Dia sama sekali tak mencoba menghubungiku, padahal aku sudah jelas berkata padanya bahwa aku akan berusaha menanam kembali rasa percayaku dan takkan menghadirkan pria lain saat kita berpisah. Tapi dengan tak adanya komunikasi diantara kita apa mungkin hal yang aku rencanakan akan terjadi dengan mudah?

Aku merasa kadang hidupku lucu.

Detik ini aku bisa merasa bahagia hanya dengan membuka riwayat chat kami, dan melihat kapan terakhir kali dia membuka pesan itu juga. Hati kecilku bertanya—apa dia memendam hasratnya untuk berkirim pesan denganku juga? Bahkan lucunya aku sedang berharap kami bertukar gender sekarang. Kadang aku merasa dia terlalu banci untuk menjadi seorang lelaki.

Percayalah, bahwa kalimat terakhir yang aku tulis tadi membuatku ingin menangis. Bolehkah aku menjadi lelaki? Yang kemudian bisa memulai segala hal tanpa perlu banyak mempertimbangkan kamus harga diri?
Namun ia tak pernah mengerti tentang itu semua. Ia selalu berkata bahwa semua gender sama saja. Ia hidup di jaman modern ya? Dimana wanita sudah mendapat hak emansipasinya. Padahal dalam cinta—emansipasi itu sama sekali tak berlaku.  Wanita tetap makhluk lemah yang perlu perlindungan dari lelaki. Wanita tetap sewajarnya mengalah untuk lelaki. Wanita tetap harus menunggu keputusan lelaki untuk melangkah lebih jauh.

Sampai kapan aku akan menjadi wanita lemah?


Tuesday, 23 August 2016

IF I LOVE AGAIN




If we’re born again, if we love again
Let’s not do this again
Jika kita dilahirkan kembali, dan kita ditakdirkan untuk saling mencintai lagi. Mari kita tak melakukan semua ini lagi. Semua cinta, pelukan, ciuman dan segala hal yang pada akhirnya hanya meninggalkan luka yang menganga di hati. Terlalu menyakitkan untuk dikenang tapi terlalu manis untuk dilupakan begitu saja. Entahlah, aku pun tak tahu apa yang harus kulakukan dengan semua kenangan ini. Terlalu panjang, terlalu banyak dan terlalu menyenangkan untuk dikubur dalam-dalam.

Let’s meet a little less
Let’s hope a little less
Jika kita dilahirkan kembali, mari kita mengurangi kadar pertemuan kita. Mengurangi banyaknya harapan yang kita buat berdua, mengurangi semua mimpi indah yang kita andaikan, yang sekarang telah menguar begitu saja bagai kabut yang tertelan cahaya. Kalau bisa, mari jangan membuat harapan. Mari kita andaikan kalau masa depan itu tak pernah ada.

Let’s not make many promises
So even if we say goodbye
We can turn away without much pain
Jika kita dilahirkan kembali, mari jangan pernah membuat janji. Janji takkan berpisah, janji akan menikah, janji akan melamar, janji akan setia. Yang semuanya teringkari begitu saja setelah kata perpisahan. Membuat luka yang menganga semakin tergores di dalamnya. Membuatnya semakin sakit, membuatnya semakin mati rasa. Aku harap kepedihanku tak sedalam milikmu.

Let’s only make light memories that we can throw away
In each other’s hearts
Jika kita dilahirkan kembali, mari kita membuat memori yang singkat sesingkat cahaya. Jangan memori yang semengesankan ini, selama ini—dengan begitu kita tak perlu bersusah payah mencari cara untuk melupakannya dari hati kita masing-masing.

Now I know that a love too deep
Brings a sad ending
Lewat perpisahan kita kali ini, aku mengetahui satu hal. Bahwa saat kita terlalu mencintai seseorang—pada akhirnya hanya akan memberi dampak negatif yang menyedihkan. Karena tak semua cinta berakhir seperti apa yang kita harapkan. Dan cinta kita, berakhir begini saja. Tanpa ada niat saling menahan, niat saling mempertahankan. Kita sama-sama pengecut yang tak mau melawan takdir. Kita hanya berpasrah dengan kisah yang dijalankan oleh takdir. Kenapa takdir bisa sejahat ini pada kita?

My love, I’ll pray for your next love
That it won’t be like us, that it’ll be without pain
Aku berharap banyak pada cinta kita yang mendatang—jika kita benar-benar tak kembali menjadi kita. Aku berharap untuk cinta yang kelak akan kau temui, cinta yang kelak akan kutemui. Semoga kisahnya tak berakhir begitu saja seperti kisah kita. Semoga kau menyadari betapa menyakitkannya seorang gadis yang kau lepaskan begitu saja, tanpa sedikitpun kau mencoba mempertahankannya. Kuharap kau banyak berubah, menghargai cinta barumu. Mempertahankannya seperti benar-benar ia cinta sejatimu.

Please be happier than me
Even if a lot of time passes and we forget each other
Aku harap kau akan lebih bahagia dariku, kuharap kau lebih dulu menemukan cintamu. Bahagia bersama cinta barumu yang harus kau temukan lebih dulu dariku. Meski kita membutuhkan waktu lama untuk saling melupakan—tapi aku yakin kita akan mampu melanjutkan kehidupan kita masing-masing. Dan sekali lagi, kau harus lebih bahagia dariku. Jangan sekalipun pedulikan hatiku yang terluka, yang remuk. Diriku yang membutuhkanmu—anggap saja kehadiranku di hidupmu hanya angin. Meskipun begitu, aku bersyukur pernah menjadi jodohmu. Walau hanya sementara.

Let’s reminisce our past days
If we can say that this was love
Jika kisah kita pantas di sebut sebagai cinta, mari kita mengenangnya sewaktu-waktu. Memikirkanmu—memikirkanku. Bukankah kedengarannya indah? Yah, meski terdengar menyedihkan juga. Tapi bukankah mengenang tak ada salahnya?

Then that’s all we need
Now I know that a love too deep
Brings a sad ending

My love, I’ll pray for your next love
That it won’t be like us, that it’ll be without pain

Please be happier than me
I hope the sky knows my heart
Sekali lagi, please be happier than me