Wednesday, 24 August 2016

DAY 2—BROKEN UP

credit : youtube


Sampai detik ini aku masih bertahan tanpa setitik pun air mata mengalir di pipiku. Bukan karena aku kuat, tapi aku memang berusaha untuk tak menangis. Bukannya aku tak sedih, hanya saja aku sedang menjadi sok kuat. Berakting tegar di depan semua orang dengan senyum palsu yang tak pernah aku samarkan, setidaknya dengan inilah caraku bahagia untuk saat ini. Tapi tetap saja kebahagiaan itu palsu—karena sumber kebahagiaanku sedang berlalu.

Sekali lagi aku merasa bodoh.

Aku tetap meyakini statemenku yang sering aku sebutkan tentang dua orang yang saling mencintai tapi kemudian memutuskan untuk berpisah adalah suatu kebodohan. Aku selalu percaya kalau cinta bisa menaklukan semuanya, baik itu ego maupun harga diri yang dijunjung tinggi-tinggi atau bahkan kepercayaan yang telah runtuh.

Tapi semenjak perpisahan akan hubungan percintaanku terjadi—kini aku menyadari bahwa dalam suatu hubungan bukan hanya cinta yang dibutuhkan. Dan cinta pun tak selamanya mampu mempengaruhi ego, harga diri maupun kepercayaan. Tapi semua bisa bergantung padanya kalau dalam diri kita sendiri menginginkan adanya perubahan. Tapi faktanya, tak semua orang mau berubah.

Sama halnya yang terjadi antaraku dan lelaki yang sampai detik ini aku cintai.

Kami sama-sama saling mencintai, tapi kita tak mau berubah untuk saling melengkapi. Aku sebenarnya mau. Tapi sikapnya yang ganjil membuatku urung. Keegoisan kami berakhir menjadi benalu yang kemudian memerangi setiap ungkapan cinta. Caranya mengagungkan harga diri membuatnya urung untuk mempertahankanku sebagai gadisnya.

Tapi tak apa :)

Jika bisa diceritakan, sebenarnya sangatlah sulit menahan airmata ini untuk jatuh. Terkadang aku sampai pada fase dimana hidungku sudah memanas dengan airmata yang mulai naik ke permukaan. Namun dengan keras kepala aku menarik-ulur nafasku membuat diri sendiri merasa tenang hingga keinginan untuk menangis itu kembali terkubur.

Sebenarnya tak ada salahnya kan aku menangis?

Aku terluka dan aku sangat tahu bagaimana luka itu menggores bagian dalam hatiku yang telah jauh kususun rapi dengan kenangan dan angan yang kini seakan merengek untuk dihancurkan. Aku hanya tak rela mereka pergi meninggalkanku begitu saja bersama pemilik yang sudah tak ingin lagi merawatnya. Dicampakkan, beginikah namanya?

Dalam kurun waktu satu tahun—aku telah diperlakukan seperti ini selama dua kali. di waktu pertama, aku sedih dan depresi. Aku menelepon ibuku di tengah malam hanya untuk menceritakan bagaimana kandasnya hubunganku yang malangnya diakhiri oleh sang lelaki. Tapi sekarang, aku lebih merasa waras untuk tak melakukan itu. sebelumnya aku sudah bilang pada ibuku, bagaimana jika hal ini terjadi dan voila—hal itu benar terjadi.

Aku sudah pernah berjanji untuk menjaga hubunganku dengannya. Karena dulunya aku hanya seorang gadis labil yang sarat akan emosi, aku akan sering mengucap kata putus dan terkadang itu membuatnya murka. Dan entah apa yang aku katakan—aku berjanji untuk takkan mengucapkan kata itu lagi dan aku berhasil menepatinya sampai detik ini.

Namun yang terjadi—seperti yang tadi aku bilang. Dalam waktu satu tahun aku dicampakkan dua kali. itu berarti hakku untuk membicarakan kata itu sudah diambil alih olehnya. Dan semua keputusan akan berlangsung tidaknya hubungan kami ada ditangannya. Dan kemarin—dia menginginkan perpisahan itu terjadi. Aku dicampakkan lagi.

Tadinya aku bingung akan apa yang harus kuperbuat. Haruskah aku mempertahankannya dengan menghubunginya terlebih dulu?

Namun aku mengurungkan niatku. Salah satu temanku bilang—lelaki yang memutuskan hubungan dengan gadisnya itu tak seharusnya kau kejar. Biarkan dia mengejarmu kalau dia memang berniat mempertahankanmu, beri dia waktu untuk mencari jawaban.

Dia—temanku, membicarakan bagaimana mulut seorang lelaki harus dikontrol. Bayangkan kalau kalian sudah bersuami istri dan kau harus bersanding dengan lelaki yang gemar melemparkan ucapan perpisahan seperti itu—maka akan berapa singkat banyak waktu yang kau butuhkan untuk mendapatkan talak?
Mulut lelaki itu pisau. Walaupun terkadang tak menyakitkan tapi ia punya hak paten untuk memutuskan sesuatu. Dan dia bilang—mulut lelakiku harus diuji.

Dan dari sana aku tak yakin—apakah mungkin gadis sepertiku akan dipertahankannya?

Alasannya berpisah denganku klise—karena kepercayaanku yang luntur. Aku memang akhir-akhir ini tak mampu percaya 100% seperti aku mempercayainya dulu. Tapi setelah aku pikir-pikir, seseorang yang sudah berumahtangga pun takkan cerai dengan alasan sepele itu kan?

Apa itu hanya alasannya hanya untuk memisahkan diri dariku?

Apa dia memang sudah jera padaku?

Dia memintaku untuk tak pernah berpikiran negatif, tapi saat aku berpikiran positif tentangnya yang akan mempertahankan hubungan kami rasanya semu juga. Dia sama sekali tak mencoba menghubungiku, padahal aku sudah jelas berkata padanya bahwa aku akan berusaha menanam kembali rasa percayaku dan takkan menghadirkan pria lain saat kita berpisah. Tapi dengan tak adanya komunikasi diantara kita apa mungkin hal yang aku rencanakan akan terjadi dengan mudah?

Aku merasa kadang hidupku lucu.

Detik ini aku bisa merasa bahagia hanya dengan membuka riwayat chat kami, dan melihat kapan terakhir kali dia membuka pesan itu juga. Hati kecilku bertanya—apa dia memendam hasratnya untuk berkirim pesan denganku juga? Bahkan lucunya aku sedang berharap kami bertukar gender sekarang. Kadang aku merasa dia terlalu banci untuk menjadi seorang lelaki.

Percayalah, bahwa kalimat terakhir yang aku tulis tadi membuatku ingin menangis. Bolehkah aku menjadi lelaki? Yang kemudian bisa memulai segala hal tanpa perlu banyak mempertimbangkan kamus harga diri?
Namun ia tak pernah mengerti tentang itu semua. Ia selalu berkata bahwa semua gender sama saja. Ia hidup di jaman modern ya? Dimana wanita sudah mendapat hak emansipasinya. Padahal dalam cinta—emansipasi itu sama sekali tak berlaku.  Wanita tetap makhluk lemah yang perlu perlindungan dari lelaki. Wanita tetap sewajarnya mengalah untuk lelaki. Wanita tetap harus menunggu keputusan lelaki untuk melangkah lebih jauh.

Sampai kapan aku akan menjadi wanita lemah?


No comments:

Post a Comment