Thursday, 25 August 2016

DAY 3—HEART’S FEELING HURT





Hari ketiga dan masih belum menangis, bukankah ini suatu rekor untukku yang baru saja putus cinta? Karena biasanya detik itu juga pasti aku akan menangis bahkan sampai meraung-raung. Aku hanya merasa perpisahan kita takkan terjadi—dan aku berharap hubungan kami akan kembali baik-baik saja seperti biasanya. Namun ini sudah hari ketiga semenjak kami sepakat untuk hal itu dan dia masih tak menghubungiku sama sekali, lalu akankah harapanku menjadi nyata?

Pikiranku bahkan tak mampu menjawabnya. Segala hal tentangnya sekarang terasa sangat abu-abu. Aku mencoba berpikiran positif seperti apa yang kerap disarankannya, namun—aku takut kalau aku terlalu banyak berharap. Aku takut jika pada akhirnya aku akan dua kali merasa kecewa—dua kali merasa terluka.
Sekarang saja sudah terasa sakitnya, apalagi jika ada kali keduanya. Mungkin ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

Sama menyakitkannya dengan hanya melihatnya mengganti display picture BBMnya dengan ilustrasi seorang cowok yang mati-matian membantu seorang cewek untuk mendaki sebuah tebing, lalu si cewek meninggalkannya setelah sampai puncak. Omong kosong sekali kan? Aku jadi bertanya-tanya apakah dia merasa seperti itu—padahal dia sendiri yang menginginkan perpisahan kami. Dia yang ingin berpisah dariku—dia yang tak menginginkanku. Bolehkah aku berkata kasar sekarang? Bolehkah aku mengumpat? Haish, mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu baper ya?

Entah kenapa lagi, aku seperti mendengarnya menyanyikan lagu Raisa yang Serba Salah di depan wajahku. Bayangannya berkata, “Bukan ku tak berharap kembali padamu, tapi pahami ku tak ingin ku tak ingin terluka.”

Imajinasi liar dalam otakku berkembang sangat pesat, dan ini menyedihkan.

Hari ini berita tentangku yang baru saja berstatus single menyebar begitu saja di tempat kerja, seperti ada viral yang membuatnya booming—dan viral itu berasal dari mulut besar teman terdekatku. Tapi aku baik-baik saja. Bahkan beberapa dari mereka cukup menghiburku dengan beberapa saran dan bermacam-macam ejekan—seakan menjadi single adalah sebuah aib yang harus ditutupi.

Bahkan mulut besarnya membuat leader grupku mengucapkan turut berduka cita—dan dari situ aku mengumpat dengan segala makian yang biasa aku ucapkan untuk teman dekatku itu. But i’m totally fine J
Leaderku bilang, seseorang yang sudah menjalin kasih selama yang kujalani pasti sebisa mungkin menemukan jalannya untuk kembali bersama. I hope so, but i dont think so—mengingat sikapnya yang sampai detik ini tak menginginkanku, membuat rasa tercampakkan terus menghantuiku dan sekali lagi—itu rasanya sangat sakit.

Beberapa orang berkata, “Cowok masih banyak, Ndah. Kamu pasti dapat yang lebih baik dari mantan kamu itu.”

Klise.

Tapi aku tak mengharapkan siapapun untuk menggantikannya, karena cita-cita terbesar dalam hidupku saat ini adalah ‘menikah dengannya’. Namun sekali lagi, mengingat dirinya yang masih enggan untuk menghubungiku sepertinya cita-cita itu hanya akan berakhir sebatas mimpi.

No comments:

Post a Comment