Friday, 26 August 2016

DAY 4—ALREADY MISSING HIM



Masih bertahan untuk tidak menangis.

Tapi masih terlalu bodoh untuk selalu membuka riwayat chat kami masih berminat untuk tahu kapan terakhir kali ia melihat chat itu juga. Dan senangnya ia masih melakukan itu juga—meski hasratnya untuk menghubungiku tetap tak ada sampai detik ini. Apa jika kami benar-benar berpisah kami takkan saling mengenal lagi? Apa dia tak ingin kami berteman? Apa dia sudah tak ingin mengenalku sama-sekali? Padahal baru hari keempat, namun aku tak mengerti kenapa perasaanku bisa segelisah ini.

Omong kosong yang sering aku baca di banyak artikel tentang menjaga jodoh orang lain kini sedang menghantuiku.

Dan aku jera, mendengarkan lagu-lagu galau yang tak sengaja dimainkan dari ponsel salah satu teman—dan entah kenapa segalanya terasa ditujukan untukku. Dan saat membaca cerita di wattpad, banyak juga yang secara kebetulan sedang sama seperti kisahku. Pacaran bertahun-tahun dan berakhir begitu saja—stuck di tempat, gagal move on, jones and whatever that i don’t want it happen to me.



Pikiranku juga tak berhenti untuk flashback—mengenang segala hal yang telah kami lalui bersama selama ini. Dari semenjak kita jadian kelas dua SMA—backstreet dua tahun. Aku rasa dia sudah tak mengingat saat-saat itu. Boro-boro mengingat itu, mengingatku saja untuk waktu ini sepertinya ia tak bersedia L

Ada waktu dimana kami telah lulus dan kami menjalani LDR—long distance relationship—Cikarang-Jogja saat dimana cinta kami benar-benar diuji untuk saling setia. Tapi pada akhirnya setia itu hanya akan mengecewakan kalau semua juga berakhir dengan kata putus juga. Fakuy kan? Pengen ketawa garing rasanya—pengen unjuk gigi sampai kering biar bisa nahan tangis L

Waktu itu aku sering komunikasi sama sepupunya dan saking dekatnya kami sampai dia ngira kami ada hubungan spesial—dia cemburu dan buat aku nggak terima saat itu. Aku juga nggak terima kenapa dia nggak percaya sama aku, dan aku pun sempat mengutarakan omong kosong tentang cinta tanpa kepercayaan itu nggak ada artinya juga. Dan aku juga menyatakan kalimat perpisahan waktu itu. Tapi dia kembali!

Setelah sehari kami putus, malamnya dia menghubungiku via telepon dan dia juga sempat menangis karena tak ingin hubungan kami berakhir. Padahal waktu itu—hubungan kami mungkin baru jalan akan tiga tahun. Dan aku sempat bahagia karena dia semanis itu. Namun sekarang—setelah kami melalui banyak hal selama lima puluh dua bulan (lima puluh dua bulan—aku sengaja mengulanginya hanya untuk kalian berpikir betapa lamanya waktu itu) itu sekitar empat setengah tahun. Dan hal yang sama terjadi lagi dan kini ia tak mempertahankanku. Bahkan tak mencoba berteman denganku.

Bolehkah aku menangis sekarang?

Aku tak tahu apa aku bisa mengubah takdir kami. Mungkin jika aku mau menghubunginya lebih dulu—aku bisa melangkah one step closer, but i won’t.

Aku tak ingin kepala besarnya menjadi semakin besar. Bagaimana dia akan melalui pintu kamarnya nanti? Aku tak ingin dia menjadi sombong karena berhasil menaklukan—dan sekali lagi aku tak ingin dia melupakan takdirnya sebagai seorang lelaki.

Tapi jika dia memang benar-benar menginginkan apa yang tak kuinginkan.......
Biarkan aku menghela nafas sejenak untuk berpikir karena ini terlihat terlalu pelik karena aku belum membayangkannya, karena aku belum yakin apa yang akan aku lakukan. But i promise, i’ll be fine. Tapi aku tak ingin galau dengan mendengarkan Someone Like You-nya Adele—dan aku tak tahu bagaimana lagi cara untuk menemukan sosok untuk menjadi jodohku.

Aku tak tahu dan tak mau tahu.

Sekarang—aku sama sekali tak punya teman lelaki yang benar-benar dekat. Aku selalu menjaga diri untuk tidak menggunakan hati ketika berteman. Aku cewek yang gampang risih bila didekati—bahkan saat aku tahu ada lelaki lain selain dirinya yang menyukaiku, aku malah ilfeel dan sebisa mungkin menjauh dari orang itu.

Aku juga selalu risih bila ditakdirkan untuk berdua bersama lelaki, meski itu hanya semesin berdua—berada di kosan berdua, atau diutus untuk cari makanan berdua. Aku hanya tak tahu bagaimana caranya untuk bersikap. Segala kecanggungan datang begitu saja tanpa kuminta—dan aku tak tahu bagaimana cara untuk mengusir kecanggungan itu.

Aku sampai heran—bagaimana mungkin dia mampu makan berdua bersama cewek lain di suatu tempat?

Tapi itu masalalu.

Toh sekarang aku bukan siapa-siapanya J

Aku juga hanya bagian masalalunya—yang mengharapkan masa depan bersamanya. Naif memang. Namun menjadi mantan saja sudah cukup. Aku tak berharap lebih—karena berharap itu akan menimbulkan kekecewaan lain, seperti apa yang sudah kuungkapkan di entriku sebelum ini. Namun aku belum berhenti berharap—dan entah kapan aku akan berhenti.

Sekarang pilihan yang aku punya hanya dua—satu melangkah maju atau dua tetap tinggal menunggu—sebenarnya, atau tiga—memperjuangkan cinta yang tak mau memperjuangkanmu, tapi aku tak mau menambahkan itu dalam opsiku. Karena sekali lagi aku tak ingin dicampakkan kembali, dan mungkin ia tak pernah tahu bagaimana rasanya dicampakkan. Namun rasanya—aku selalu dicampakkan ya. Dari yang pertama sampai kini yang keempat kalinya. Akankah aku menemui takdir kelima? Bisakah aku berhenti di nomor empat? Untuk selama-lama-lama-lama-lama-lamanya?

Adakah yang bersedia menamparku? Untuk menyadarkanku kalau aku hanya seorang mantan?

Kembali ke pilihan hidupku, bodohnya aku memilih pilihan kedua. MENUNGGU.

Aku akan menatapnya dari jauh—mencari informasi sebisa mungkin tentang kehidupannya menjadi fangirl di dunia nyata. Mungkin nantinya aku akan melihatnya mulai melebarkan sayap dan belajar mengepakkannya. Hingga akhirnya dia terbang dan bertemu burung lain yang mungkin lebih baik dariku—kemudian berlalu bersamanya. Dan aku akan dengan setia disini meniti bekas persinggahannya.


Rasanya pengen nangis baca dongeng yang aku buat sendiri.

Ya Allah semoga apa yang aku tulis baru saja tak pernah terjadi, amin J

Bolehkah aku menangis sekarang?

Tidak. Aku belum menangis karena sampai detik ini aku belum menelepon ibuku untuk menceritakan semua. Aku tak sanggup—ibuku terlalu menyayangi mantan-calon-menantunya itu. dan aku yakin telingaku akan jera dengan nasihat beliau yang akan memintaku mengalah. Bolehkah aku mengatai lelaki itu brengsek karena hanya memutuskan hubungan denganku lewat chat dan tak membalas pesan terakhirku yang panjangnya mungkin separagraf ini?

YA TUHAN APALAGI YANG AKU HARAPKAN DARI LELAKI INI?

Tapi aku merindukannya L

Meski aku tak bisa menjadi sosok yang dirindukannya. All that i know is i don’t know how to be something you miss. I never thought we’d have a last kiss. Never imajined we’d end like this—you’re name forever the name on my lips. Ooooh fyi, i can’t stop listening and singing this song L





No comments:

Post a Comment