Saturday, 5 November 2016

A GOODBYE

Semenjak 23 Agustus lalu, aku tak lagi mengerti apa itu artinya cinta dan bagaimana  aku harus menanggapi hal itu. Aku benar-benar tak memahami kenapa satu kata itu bisa memberi dampak yang luar biasa maha dashyat bagi kehidupan seseorang. Bagaimana satu kata itu bisa memberi pengaruh yang begitu mendalam bagi kehidupan setiap orang?

Aku berhenti menulis, aku berhenti menghitung hari dimana status kami tak lagi sama karena aku yakin hubungan kami akan berjalan baik-baik saja tanpa status apapun. Namun pada akhirnya aku kembali sanksi. Aku kembali di hadapkan pada status itu lagi—berpacaran dengannya. Namun akhirnya aku urung. Status itu terlalu membebaniku. Status itu terlalu membuatku memikirkan banyak tuntutan untuk mengekangnya melakukan ini-itu. Untuk memintanya melakukan segala hal untuk itu. Dan dengan status itu, aku merasa geram jika ia tak menuruti keinginanku.

Maka dari itu aku tak menginginkan status semacam itu mengikat kami. Aku tak ingin membebaninya dengan pikiran-pikiran tentang keinginanku. Namun ia tak mau mengerti, ia tak mau mengerti kenapa status itu membuatku tak nyaman. Ia pasti sibuk memikirkan hal buruk yang aku pikirkan, padahal sebenarnya aku hanya memikirkan kenyamanannya. Aku tak ingin ia merasa tak nyaman dengan pemikiranku. Namun ia tak mengerti. Ia tak mau mengerti.

Berkali-kali ia memintaku untuk mengungkapkan apa yang aku pikirkan. Awalnya aku ragu. Aku tak mau. Tapi lambat-laun dia berubah menjadi sosok yang menyebalkan. Keegoisan mendarah daging dalam hidupnya. Aku tak lagi bisa mengerti tentang dia. Aku tak lagi mengenalnya. Ia berubah. Ia asyik dengan kehidupannya sendiri dan aku tak berniat untuk masuk ke dalam perhitungannya lagi. Karena mengharapkannya hanya akan membuatku sakit.

Aku pernah berkata, aku sering berkata bahwa dua orang yang saling mencintai namun memilih untuk berpisah itu pembodohan. Mereka hanya saling menyakiti hati masing-masing.

Namun sekarang, aku dengan sadar ingin menarik ucapanku kembali. Setelah melewati kisahku sendiri kini aku tak bisa memungkiri kenyataan. Saling mencintai saja tak cukup untuk menjaga suatu hubungan tetap bertahan. Lamanya hubungan pun tak cukup untuk membuat kami menyayangkannya. Tak cukup untuk membuat kita saling bertahan. Karena untuk tetap bersama kita harus memiliki faktor lain selain cinta. Saling memahami, saling menghargai, saling percaya dan yang jelas keinginan untuk saling bertahan satu sama lain.
Aku sudah tak melihat hal semacam itu lagi dalam hubunganku.

Aku tahu kami masih saling mencintai satu-sama lain. Namun takdir tak lagi menginginkan kita untuk bersama. Kita belum cukup dewasa untuk bisa memerangi ego masing-masing. Percuma aku mengungkapkan keinginanku aku menahan semua gengsiku dengan mengemukakan semua isi otakku kalau pada akhirnya ia sendiri tak bisa memerangi ego yang didirikannya.

Sungguh! Sungguh sangat menyakitkan saat seseorang yang selalu bersamamu selama lebih dari lima puluh bulan lamanya, ia memutuskan untuk berhenti dari permainan ini. Aku tak keberatan, karena kau sendiri tahu kalau tak ada hal yang bisa dipertahankan dari hubungan ini.

Aku menerima keputusannya dengan lapang dada. Bukan karena aku tak mencintainya lagi, bukan karena aku tak ingin berjuang bersamanya lagi. Hanya saja, aku tak ingin sakit hati lagi. Biarkan aku sakit hati sedalam-dalamnya sekali ini saja. Lukaku akan sembuh seiring berjalannya waktu, daripada aku terus bersamanya dan membiarkannya menorehkan luka yang sama setiap harinya. Itu akan lebih menyakitkan.

Haha. Lucu memang mendengarnya berucap bahwa mulutku pedas. Ia bilang mulutku mengeluarkan kalimat yang menyakitkan. Padahal aku hanya berusaha rasional mengungkapkan fakta yang aku rasakan. Aku hanya mengungkapkan kesalahan dirinya yang tak ia sadari. Aku tahu dia tersinggung dengan ucapanku, dalam lubuk hatinya yang terdalam ia pasti tahu kalau apa yang aku ucapkan adalah benar. Maka dari itu ia merasa sakit hati atas ucapanku, kalau ucapanku salah—mana mungkin ia merasa sakit hati. Ya kan?

Gadis mana sih yang mau mendengarkan cerita yang jelas-jelas tak disukainya setiap hari? Setiap detik bersamanya sudah tak asik lagi buatku. Setiap ajakan kencannya sudah tak membuatku berminat lagi karena aku tahu apa yang akan menjadi topik utama setiap pembicaraan kami.

Bosan? Apa aku bosan? Tentu.

Aku bosan pada setiap topik yang ia ungkapkan tentang sepak bola. Tentang klub yang dielu-elukannya sedemikian rupa. Tentang suatu hal yang disukainya dan secara berlebihan ia banggakan. Ia bahkan tak tahu apa jawabannya saat aku memintanya untuk memilih antara diriku atau klub bolanya itu. Namun sekarang aku sudah tahu jawabannya dengan jelas, ia lebih memilih hal itu. Yah. Aku hanya bisa berdoa sekarang, semoga hal itu benar-benar lebih membahagiakannya daripada caraku.

Aku ingat, dulu dia tak seperti itu.
Aku tak ingat kapan ia mulai seperti itu.

Dulu hubungan kami manis, aku selalu tertawa pada setiap humornya yang meskipun menurut orang lain tak lucu namun aku selalu berusaha tertawa. Namun semenjak ia keranjingan dengan klub bola itu, sosok membahagiakannya kian lenyap. Caranya mengoleksi beberapa atribut bola yang tak bisa dikatakan murah, bahkan beberapa diantaranya tak ia butuhkan sama sekali. Namun ia membelinya tanpa menyayangkan apapun. Ia bahkan mengikuti sebuah forum yang membuatnya harus mengiurkan sejumlah uang untuk klub itu. Dia bilang itu suatu bentuk loyalitas, padahal itu tak berdampak apa-apa untuk dirinya.
Ia bilang ia bahagia melakukan itu.

Aku tak suka caranya menghamburkan uang untuk kegiatan tak penting. Kesenangan memang harus diprioritaskan tapi kesenangan dengan cara yang masuk akal kan banyak? Kenapa kita harus membuang waktu dan uang hanya untuk sesuatu yang tak penting? Oke. Aku angkat tangan saat ia berkata itu penting baginya. Aku tak tau lagi jalan pikirannya. Aku hanya berharap suatu saat aku dipertemukan dengan seseorang yang sepemikiran denganku.

Lucunya, saat aku mengungkapkan hal itu. Ia akan membalas ucapanku. Ia akan mengatakan beberapa hal yang membuatku mati kutu. Ia akan memutar ucapanku dan membalikkannya. Bagaimana denganku sendiri yang ingin menonton konser boyband seharga jutaan?

Aku hanya ingin, catat! Realitanya? Aku tak tahu. Jelas aku akan memikirkan nasib kedua orangtuaku. Lebih baik aku mengumpulkan uangku untuk mereka daripada menghamburkan uang sebanyak itu. Toh, aku masih bisa menonton mereka lewat ponselku.

Dulu dia adalah sosok dewasa. Ia tahu mana yang harus diprioritaskannya dan mana yang harus ia kesampingkan. Namun kini, ia lebih childish dari lelaki manapun yang aku kenal. Ia bersikap sok dengan tingkahnya, ia selalu merasa paling benar dengan apa yang dilakukannya.

Dan sekarang seharusnya aku bersyukur, dia melepasku. Dia bahkan mendoakanku agar aku mendapatkan seseorang yang mau mengerti apa mauku. Semoga doanya menjadi nyata ya :)

Kami benar-benar tak saling berhubungan lagi sampai detik ini. Aku teringat pesan panjang lebarku yang tak dibalasnya sama sekali. Sakit sih, tapi aku sudah mengikhlaskannya. Tak apa menjadi yang tersia-siakan, karena berdasar opini yang aku baca sosok yang disia-siakan itu biasanya akan dicari oleh orang lain.
Aku mencoba untuk percaya akan hal itu.

Aku memutuskan untuk tak pacaran lagi. Aku akan menunggu saat yang tepat sampai ada sosok yang datang mengisi hatiku, maka aku akan memintanya untuk menikahiku karena aku tak mau menjalin hubungan menyakitkan lagi.

Aku masih mencintainya, dan hubunganku yang lama tentu juga butuh waktu lama untuk menghapus namanya, untuk melupakannya tentu bukan hal yang mudah. Tapi akan.

Aku tak peduli lagi dengan status yang dibuatnya untukku. Aku takkan pulang padanya, jika itu yang diharapkannya adalah aku hadir lagi ke dalam kehidupannya dengan merendahkan harga diriku lagi. Aku sudah sering melakukan itu sebagai wanita. Aku sudah mengingkari kodratnya sebagai lelaki. Aku akan menerima jika dia datang meminta maaf aku takkan keberatan untuk memberinya kesempatan. Tapi jika ia mengharapkanku untuk itu, ia takkan menemukan apa-apa kecuali mimpi.

Aku akan berusaha menjadi sebenar-benarnya wanita. Kakakku bilang, tak perlu mencari pengganti dengan cepat. Aku harus berusaha memperbaiki diriku dulu untuk mendapatkan sosok yang lebih baik darinya. Kata kakakku, seseorang yang berusaha menjadi lebih baik akan mendapatkan yang baik juga. Semoga ucapannya itu benar karena aku percaya. Aku akan menunggu lawan yang baik. Semoga dia hadir di saat yang tepat :)

Aku berdoa lagi untuknya, semoga dia mendapatkan sosok yang tepat juga.

Aku yakin dia takkan melupakanku selama bergumul dengan forum bolanya. Karena itulah alasan kami berpisah. Semoga dia mendapatkan gadis yang menerima hobi anehnya itu :)

Siapa tahu ia mendapatkan jodoh di tribun pas nonton bareng gitu kan kaya di FTV?
Who know? Wkwkw



No comments:

Post a Comment