Friday, 11 November 2016

NOW I REALIZE THAT I’M REALLY ALONE



Sendiri; bukan suatu kata yang enak untuk didengar. Bukan juga suatu peristiwa yang menyenangkan untuk dilihat. Selalu terbersit rasa kasihan pada seseorang yang kita lihat melakukan segala sesuatu sendirian, ya kan?

Namun, awalnya hal itu terdengar menyenangkan bagi kaum introvert sepertiku. Tapi lama-lama sendiri justru seperti kegelapan yang mencekam. Semakin larut di dalamnya, semakin sunyi pula yang kudapati.

Awalnya sendiri itu menyenangkan. Namun semua berubah semenjak aku kehilanganmu.

Kini aku benar-benar tahu apa artinya sendiri. Dimana tak ada lagi tempat untukku menggantungkan diri. Tak ada lagi hati yang aku miliki. Tak ada lagi hati yang aku singgahi. Sampai sekarang aku masih tak percaya kalau kita benar-benar saling melepaskan.

Tapi takdirmu berkehendak lain. Dan takdirku hanya ingin menunggu.

Mungkin benar tak mengapa kita berpisah. Daripada kita saling bertahan dengan memaksakan kehendak dan mengikuti ego kita sendiri.  Daripada kita saling menghakimi lawan masing-masing. Toh, hubungan kita memang sudah gagal :) dan kau menyerah untuk memenangkanku.

Kehilanganmu menyadarkanku akan banyak hal, meski baru dua minggu berjalan. Salah satunya menyadari bahwa selama ini kau memiliki peran penting dalam hidupku selama empat tahun terakhir ini. Dan kedua aku menyadari kalau untuk keempat kalinya aku gagal menjadi gadis yang patut untuk diperjuangkan :)

Aku kehilanganmu :)
Tak ada lagi seseorang yang perlu aku kabari di sela waktu bekerjaku. Tak ada lagi sosok yang aku harapkan menyambutku sepulang kerja dengan pesan-pesanmu. Tak ada lagi seseorang yang siap mendengarkan cerita keseharianku yang penuh dengan kebodohan. Aku benar-benar kehilangan semua itu.

Namun sekarang aku menjadi lebih mandiri. Aku tak lagi bergantung padamu. Dan lagi—aku semakin dekat dengan ibuku. Karena kini pesan yang biasanya aku ketik, dan aku kirimkan untukmu—aku kirimkan ke nomornya. Pesan beliaulah yang kini menggantikan pesanmu di ponselku. Aku bahkan tak lagi kehabisan bahan bicara saat aku menelepon beliau yang kini seminggu tiga kali, hahaaha. Bahkan aku menghabiskan paket teleponku yang dua jam hanya untuk mengobrol dengannya. Terimakasih, aku jadi tahu kalau ibuku sangat menyayangiku dan sangat peduli padaku meski jarak kami sejauh ini :)

Aku ingin bercerita padamu :)
Herannya, semenjak kau mencampakkanku—aku menghadapi banyak kesialan. Mulai dari aku lupa membawa kunci loker, dan membuatku harus naik ojek mahal—balik ke mess terus ke pt lagi—dengan tukang ojek bapak-bapak yang ngambil jalan pintas dengan wacana nembus macet biar cepet sampai di pabrik. Kami dikejar oleh waktu dan aku benar-benar panik waktu itu. Aku sempat suudzon andai saja tukang ojek itu nantinya memberhentikanku di jalanan sepi dan aku diculik/diperkosa. Aku benar-benar memikirkan hal itu waktu itu dan terserah kau mau percaya apa tidak—tapi waktu itu aku benar-benar menyiapkan kontakmu untuk aku hubungi jika saja kekhawatiranku benar-benar terjadi.

Kamu adalah orang pertama yang aku harapkan saat itu. Bahkan saat aku sadar aku melupakan kunci loker itu, namamu lah yang terbesit dibenakku untuk pertama kali—untuk menolongku. Namun kenyataan bahwa kau mencampakkanku meruntuhkan harapanku. Aku bahkan tak yakin jika kini kau peduli. Dan aku kembali mencoba mandiri dengan mengandalkan diriku sendiri.

Lalu masih di minggu yang sama, aku pingsan di PT.
Apa kau mengkhawatirkanku? Jika iya, aku baik-baik saja kok. Aku hanya mendapat serangan dismenoria seperti biasanya. Kau pasti masih ingat kelemahanku, kan? Hebatnya aku! Aku membuat semua orang di gedung devisiku panik. Banyak atasan mengelilingiku saat aku sadar dengan menyodorkan berbagai minyak dan minuman hangat. Mereka menanyaiku banyak hal yang malah membuatku pusing. Ditambah kenyataan kalau aku masih anak baru yang training dua minggu. Aku berakhir dengan tidur di klinik sambil menunggu bel pulang.

Dan aku berpikiran untuk memintamu menjemputku waktu itu. Tapi beruntungnya aku, karena Desi sudah menyiapkan pasukan untuk menjemputku sehingga aku sekali lagi bisa mandiri tanpamu.
Di dalam klinik itu, untuk pertama kali semenjak kau memintaku untuk pergi—aku menangis. Aku benar-benar merasa kehilanganmu. Rasa sakit di perutku tak sebanding dengan rasa sakit di hatiku. Suster yang bertugas di klinik itu sampai mendatangiku dan bertanya apa aku masih sakit, padahal dia sudah memberiku obat pereda rasa nyeri. Yah! Hidup terkadang memang menyedihkan bukan?

Kesialan lainnya—minggu berikutnya aku tak satu shift dengan Desi. Kau sendiri tahu, aku tak pernah berpisah dengannya. Bisa dihitung jari, berapa kali aku tak bersamanya. Dan tanpa kehadirannya aku semakin merasa kesepian dan frustasi. Aku benar-benar sendirian—baik di mess maupun di pabrik. Seperti anak ayam kehilangan induknya, hidupku benar-benar menyedihkan untuk sementara ini.

Apalagi di pabrik, aku masih menjadi anak bawang yang dilempar kesana-sini. Bekerja dengan senior menyebalkan berwajah jutek. Bahkan yang paling menyebalkan—beberapa kali aku disuruh bersih-bersih. Dengan menggunakan kemoceng aku disuruh membersihkan debu sepanjang lima lorong warehouse dengan dua rak di masing-masing kiri dan kanan. Dan masing-masing rak memiliki 4-5 tingkat. Riwayat asmaku yang alergi pada debu membuatku terus bersin hingga sekarang. Ditambah lagi, leader menyebalkan itu menyuruhku untuk membereskan gudang. Dengan berkarton-karton barang disposal yang harus aku rapikan. Rasanya aku ingin melambaikan tanganku menyerah pada semua ini.

Awalnya, aku menulis entri ini dengan tangan dimalam kamis, di dalam kamar messku. Suasana sedang mati listrik, kedua ponselku mati, desi sedang bekerja dan aku tak punya hal lain untuk dilakukan. Beruntungnya, aku membawa binderku—jadilah aku menulis artikel yang lebih seperti diary atau surat cinta ini. Sebelum akhirnya aku ketik ulang dan aku mengeposnya disini. Aku tahu aku kekanakan, dengan beberapa kali menulis status tentangmu—tentang kita. Apalagi dengan ini, aku seperti membiarkan semua orang mengakses cerita hidupku. Aku mengumbar masalah pribadiku. Tapi bukan itu poinku.

Aku hanya ingin berbagi pada siapapun yang membacanya, aku ingin kalian semua yang membaca ini tahu kalau selama ini aku hanya berpura-pura bahagia. Karena faktanya aku terluka—sangat sangat sangat sangat sangat dalam sekali. Dan karena sekali lagi aku tak memiliki seseorang untuk mendengar ceritaku, maka aku bercerita dengan diaryku. Dan blog inilah tempatku telah menuang berbagai kisah absurdku.

I’m nothing without my diary like i’m nothing without you. Hahaha

Sekarang, aku merasa seperti pecundang. Aku tak memiliki teman untuk diajak berbicara panjang lebar seperti aku berbicara denganmu. Aku bahkan berharap setiap hari adalah weekend agar aku bisa pulang ke kontrakan seperti hari ini. Agar setidaknya aku memiliki  teman untuk mengobrol dan terhindar dari peristiwa yang namanya menangis. Aku tak suka menangis dan aku tak mau sering-sering melakukan itu.

Aku belum bisa berkomunikasi dengan teman sekamarku di mess yang tunarungu. Dan aku belum mau mengenal mereka yang bisa berbicara normal disana. Karena mereka yang sempurna justru terlihat mengerikan untuk aku ajak berteman. Mereka melempar komentar di sana-sini yang sangat membuatku tak nyaman.

Namun di mess, aku yang notabene paling sempurna malah merasa paling menderita. Setiap harinya—dua teman sekamarku pasti didatangi temannya yang sesama tunarungu, mereka akan berkumpul di dalam kamarku dan mengobrol asyik dengan bahasa mereka yang tak ku mengerti. Aku hanya sebagai penonton yang mengamati tiap orang yang berbicara dengan heran. Rasanya aku seperti sedang menonton pertunjukkan pantomim. Diam-diam aku mengagumi mereka. Mereka bisa bahagia dengan cara mereka, dengan sesama mereka.

Sedangkan aku yang sempurna malah sering mengeluh hanya dengan satu kekurangan yang tak berarti. Aku yang sempurna malah membuang-buang waktu untuk menangis gara-gara putus cinta. Aku berbicara pada diriku untuk tak boleh menangis lagi. Sendiri tak membuatmu mati! Kau masih punya orang lain yang peduli padamu! Itu yang aku tekankan berkali-kali pada diriku.


Bagaimana mungkin aku yang lebih sempurna dari mereka malah merasa sekesepian ini? Padahal aku bisa berbicara, mendengar, menyanyi—aku lebih beruntung dari mereka. Dan aku harus mensyukuri hidupku lebih baik lagi. Kehilangan bukan akhir dari segalanya. Aku tahu aku cengeng—dan tak seharusnya aku mengeluhkan hal semacam ini lagi. Namun aku tak bisa berjanji untuk tak melakukan itu. Karena sungguh—sekali lagi, aku merasa sangat sangat sangat sangat sangat sakit.

Tapi setidaknya aku bangga pada diriku, karena aku masih bisa terlihat tegar dengan terus tersenyum di depan semua orang setelah kehilangan cinta yang telah jauh aku pertahankan empat tahun setengah ini. Aku berhenti berjuang—karena semua orang menyadarkanku bahwa berjuang memang harus bersama namun mengejar itu bukan tugasku.  Aku menerima berbagai wejangan untukku berhenti merendahkan diriku di hadapan seorang pria. Selama ini aku menganut asas cinta harus diperjuangkan, maka aku memperjuangkan apa yang aku cinta. Namun kini—aku mengurungkan asasku. Aku kembali pada kodrat kewanitaanku, dan dalam cinta memang artian emansipasi wanita itu tak seharusnya berlaku.

Wajahku menghangat saat aku menulis ini. Oh tuhan!

Sekali lagi, aku takkan menyesali perkataanku yang mengkritikmu. Aku merasa benar dengan opiniku dan takkan pernah menariknya. Memang seharusnya aku mengucapkan itu—sesuatu yang membuatku tak nyaman tentangmu. Kenyamanan adalah poin pertama dalam satu hubungan. Dan jika kau tak bisa memberi kenyamanan itu maka aku tak bisa bernegosiasi akan apapun.

Aku pikir, ucapanku bisa membuatmu sadar akan tingkah berlebihanmu. Namun nyatanya kau tak menyadarinya. Aku tahu kamu tak bisa meninggalkan hobi barumu itu kini. Maka memang ada baiknya kamu meninggalkanku. Karena aku dan hobimu itu tak bisa disandingkan. Hobimu bukan sesuatu yang membuatku nyaman.

Bahkan  beberapa hari yang lalu kau juga baru saja beraksi di salah satu stadion di Karawang kan?
Berhentilah menulis status untuk memojokkanku. Bukan aku tak melakukan apapun, tapi kau yang tak melakukan apapun. Bahkan kau lebih memilih untuk menghibur diri dengan melakukan hobimu yang tak kusukai daripada untuk mendatangiku yang jelas-jelas lebih dekat jaraknya. Dan bukan aku menyadari tentang ketidaksempurnaan yang kamu bicarakan atau apa. Karena aku tak pernah mempermasalahkan hal itu. Justru sikap sok sempurnamulah yang membuatku menjauh.

Kau bertingkah seakan kau emas atau apa yang berharga. Sehingga kau selalu urung untuk merendahkan dirimu untuk mengejarku. Kau yang selalu merasa benar dan menanti maaf dariku seolah kau tak pernah melakukan sesuatu yang salah. Kau yang selalu merasa aku memojokkanmu dengan semua statemen yang aku ucapkan, dan sakit hati dengannya padahal memang begitu kenyataannya.

Aku belum berniat untuk melepas atau melupakanmu. Namun jika kau terus saja menumpuk egomu dengan selalu memasang mindset bahwa kau pantas untuk dimintai maaf—maka aku akan melakukan itu. Mungkin suatu saat akan ada waktu dimana kau memiliki seseorang yang membuatmu sadar akan hal itu. Ini bukan kali pertama aku berbicara bahwa kau adalah seorang lelaki. Tak seharusnya kau menunggu. Kaulah yang seharusnya mengejar. Jika sosok itu bukan aku, maka mungkin akan ada yang lainnya yang mampu menyadarkanmu akan hal itu.

Dan biarkan aku mengatakan hal ini lagi padamu....

Menyukai segala sesuatu dengan berlebihan itu tak baik. Mungkin kelihatannya baik untukmu atau untuk seseorang di sekitarmu yang menganut hal yang sama denganmu—namun, tak semua orang sama denganmu. Bisa jadi kan sebenarnya ada juga orang yang berpikiran sama denganku? Hanya saja mungkin mereka tak berani dan enggan untuk mengungkapkannya. Aku bukan seseorang yang bisa memendam keluhanku. Aku lebih suka untuk jujur dan melepaskannya.

Jika aku tak bisa membuat pikiranmu berubah tentang semua hal di atas. Maka biarkan satu pesan terakhirku ini untuk kau dengarkan dan kau aplikasikan baik-baik dalam hidupmu. Kau boleh menyerah tentangku—namun jangan sampai kau menyerah pada hal lainnya. Kau harus mewujudkan mimpimu yang ingin kau raih. Membuka usaha seperti apa yang ingin kau rencanakan. Aku harap hidupmu akan baik-baik saja. Aku harap kau segera mengakhiri masa menganggurmu. Semoga kau lekas mendapatkan pekerjaan yang mampu membuatmu nyaman. Semoga kau lekas mengakhiri masa pengangguranmu. Dan masa jomblomu juga, mungkin?

Aku tak keberatan jika nantinya kau mendapatkan dia yang baru dan memperlakukannya seperti putri. Jika nanti kau membanggakannya di depan umum, maka aku akan turut bahagia karenanya. Kau harus mengurangi sifat egois dan tak mau mengalahmu, oke? Karena tak semua wanita sesabar aku. Kau mungkin akan menemui yang lebih menyebalkan dariku.

Merendahkan dirimu untuk seseorang yang kau cinta itu tak ada salahnya. Aku sudah kerap melakukan itu padamu, dan aku pernah bahagia dengan itu. Aku tak merasa bodoh atau apa kok. Karena untuk seseorang yang kau cintai, kadang kau harus mengorbankan perasaanmu sendiri. Terkadang, wanita mengharapkan seorang lelaki bodoh yang mau mengorbankan segala sesuatu untuknya. Bukan sekedar telenovela—namun hampir semua wanita menginginkan hal semacam itu. Menjadi bodoh tak selamanya membuatmu dipandang rendah. Dan sikapmu yang terlalu keras itu kadang malah membuatmu nampak bodoh.

Namun kau boleh tak mendengar nasihatku, aku hanya mencoba menjadi mantan yang baik.
Apa ucapanku sudah cukup manis? Karena nanti aku berencana untuk menjadi diriku apa adanya. Semoga kelak akan ada seseorang yang menganggap perilakuku manis, ya?

Aku berusaha akan berhenti mengharapkanmu dan aku akan berhenti menulis kata-kata lemah seperti ini. Sebenarnya aku ingin berjanji, namun sepertinya itu terlalu membebaniku. Beri aku waktu setidaknya tiga-enam bulan untukku benar-benar bisa menyesuaikan diri tanpamu. Aku takkan menghubungimu lagi, aku takkan menganggumu lagi, aku takkan membiarkan mulut kotorku mengoceh di sekitar telingamu lagi—kau takkan mendengar ucapan menyakitkanku lagi. Bukankah itu yang kau harapkan?

Aku akan menerima rasa kesepianku dengan lapang dada. Dan kelak aku akan menceritakan kepada anakku tentang betapa tragisnya kisah cintaku. Aku takkan sok cantik lagi—aku akan intropeksi diri sebanyak-banyaknya. Agar aku tak lagi mengalami putus cinta untuk yang kelima kalinya. Semoga ini yang terakhir. Semoga aku tak bertemu dengan lelaki semacam kalian lagi.

Aku akan membahagiakan diriku. Aku juga berdoa untuk kebahagiaanmu. Aku akan membiarkanmu membuka lebar sayapmu. Dan aku akan mengamatimu terbang dari tempat ini. Kau tahu kan? Aku akan menghubungimu nanti saat aku sudah bisa membayar hutangku. Akhir bulan ini, aku berjanji. Aku takkan membebanimu lagi :)

Kau harus doakan aku juga ya? Semoga aku menjadi lebih baik lagi dari ini. Semoga kelak aku menjadi gadis yang berarti untuk semua orang di sekitarku. Untuk seseorang yang menemaniku, semoga nanti aku menjadi wanita yang pantas untuk diperjuangkan.

Dan dengan semua kesendirianku, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk hal itu. Meski sebenarnya aku sama sekali tak ingin sendirian. Aku takkan memintamu untuk tinggal, karena aku tak mau jika kau melakukannya bukan dari hatimu.

Mari kita bahagia dengan cara yang baru :)



No comments:

Post a Comment