Tuesday, 30 August 2016

DAY 9--LOST AND FOUND



Tak ada yang berubah selama empat hari terakhir, meski aku tak menuliskan apa yang terjadi. Tak ada yang spesial dan tak ada keadaan yang membaik. Yang ada hanya pikiranku yang mulai memburuk. Karena sekarang aku menganggur. Masa kontrak kerjaku di cikarang telah berakhir. Aku hanya perlu menunggu gaji terakhirku turun—dan aku akan kembali ke jogja untuk beberapa saat.

Pengangguran dan jomblo adalah dua hal yang tak baik jika disatukan. Itu yang kurasakan.

Aku diserang kesepian sepanjang waktu. Meski mulutku berkata aku-baik-baik saja, namun hati ini tak bisa berbohong mengungkapkan rasa kesepiannya. Meski bibir ini terus tersenyum, namun sepenuhnya aku hanya berpura-pura. Meski mata ini terus berbinar, namun rasa panas karena ingin menangis itu sewaktu-waktu muncul seenaknya.

Kugunakan beberapa waktu terakhirku untuk menonton drama korea menyedihkan—hanya untuk membuat diriku menangis dan tenggelam di dalam masalahku. Namun yang ada drama itu tak cukup sedih untuk membuatku menangis. Padahal aku ingin sekali menangis saat menontonnya—agar saat temanku bertanya kenapa aku menangis, aku bisa menjawabnya karena drama itu menyedihkan. Tapi ternyata aku bukan gadis yang cukup sentimentil.

Dulu aku pikir hubungan kami takkan berakhir begini.

Dulu aku pikir setiap kami berpisah, kami pasti akan kembali bersama.

Dulu aku pikir dia begitu menyayangiku sampai tak bisa kehilanganku sama seperti yang aku rasakan.

Namun kini, aku kehilangan semua pemikiran itu.

Kita tak berakhir lebih dari sekedar teman sekarang. Tentu saja dengan aku yang masih mencintainya.

Anggap saja aku pengemis cinta. Begitu memalukan yang luar biasa aku banggakan. Menyedihkan sekali—disaat aku bingung, berpikir panjang hanya untuk membalas chat dinginnya, hanya untuk membuat chat itu tak berakhir begitu saja. Salahkah jika aku ingin kami terus berkomunikasi?

Aku hanya ingin segera pulang ke rumah dan berada dalam satu kota yang sama dengannya. Aku hanya ingin tahu—apa dia peduli? Apa dia akan mengajakku bertemu?

Meski aku tak yakin, tapi aku masih berharap.

Mungkin satu pertemuan saja bisa membuat semuanya luluh—itupun jika dia masih mencintaiku.

Menurutku—semua omong kosong tentang kepercayaan ini tak hanya terjadi padaku. Tapi dia juga, yang tak lagi percaya padaku. Mungkin saat ia mulai berpikir aku menceritakan tentang masalah pribadinya pada banyak orang. Padahal temanku sudah mengetahuinya sebelum aku bercerita—dan semua anak di kosan juga masih tak tahu kenapa kami putus sampai detik ini. Hanya teman sekamarku yang tahu. Dan satu lelaki yang sudah aku anggap seperti kakak disini. Kenapa aku bercerita pada cowok ini? Karena dia satu-satunya yang bisa memberiku solusi logis tentang segala masalah yang kerap aku ceritakan.

Tapi sungguh—aku tak pernah menganggapnya lebih dari itu.

Aku juga pernah menulis entri tentang masalahnya disini, dengan judul bad as hell. Tapi siapa yang membacanya? Bukankah kalau aku tak memposting link di salah satu timeline medsosku pun—dia takkan membuka blog ini. Apalagi orang lain? Siapa yang dia harapkan membaca omong kosong yang aku tulis.
Menulis adalah hobiku. Dan ini satu-satunya cara untuk mengurangi bebanku. Daripada aku bercerita pada orang lain yang mungkin bisa memiliki mulut ember dan membubuhi ceritaku dengan banyak komentar pedas. Aku lebih suka menuliskannya—karena huruf-huruf ini takkan berkhianat.

Dan tahu apa? Teman-temanku tak pernah berusaha menanyakan masalah apa yang terjadi pada kami. Mereka hanya menyimpulkan dengan pemikirannya sendiri dan alasan mereka membuatku tertawa miris. Yang mereka tahu—hanya aku dicampakkan karena dia menemukan wanita lain. Okelah~ aku tak apa dengan komentar itu. Itu lebih baik daripada alasan tak logis yang kami pilih.

Dan apalagi yang lucu? Bahkan semenjak konflik kami dimulai banyak temanku yang bercanda agar kami putus—agar aku bernasib jomblo sama seperti mereka. Bahkan mereka menjanjikan akan mentraktirku mcdonald sepuasnya jika hubunganku berakhir. Dan saat hubunganku benar-benar berakhir, mereka menertawakanku dan menawarkan berkali-kali janji itu. Bukannya aku tak tertarik—aku tak munafik. Aku suka ditraktir.

Itu naluri manusiawiku. Tapi asal kalian tahu—mau mereka mentraktirku steak sekalipun, sakit hatiku takkan begitu saja terobati. Seenak apapun makanan yang aku makan takkan pernah mampu membuatnya kembali ke pelukanku kan?

Ada satu komentar pedas dari temanku yang cukup mengiris batin.
Jadi ceritanya—aku memasang gambar walpaper seorang cowok korea dilaptopku, ada satu teman yang bertanya siapa cowok itu. Aku menjawabnya simpel, pacarku dan aku mengamininya—candaan basi jaman batu. Dan temanku yang lain berkomentar intinya—kalau cowok yang sekarang saja mencampakkanmu bagaimana kalau cowok yang gambarnya aku pajang itu. Heol! Ledekannya begitu tepat sasaran dan menyakitkan. Aku tak bisa mengelak.

Dan parahnya lagi—yang memberi komentar itu adalah seorang cowok. Menyebalkan bukan?

Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan diriku kalau kami benar-benar tak kembali. Bagaimana lagi aku akan bisa membuka hati untuk seorang lelaki jika sekarang semua cowok terlihat menyebalkan?
Aku tak tahu jika kehilangan bisa semenyakitkan ini.

Tapi bukankah sebelum janur kuning melengkung cinta masih bisa diperjuangkan? Meskipun aku seorang wanita?
Bolehkah aku belajar dari cara Sakura memperjuangkan cinta Sasuke?

Aku sama sekali tak ingin menemukan lelaki lain—aku tak ingin menghadirkan lelaki lain. aku hanya ingin dirinya yang dulu kembali. dirinya yang dulu penyayang—perhatian dan kadang memprioritaskanku di atas segalanya. Bukan dia yang sekarang dingin, tak peduli dan mungkin tak menyayangi dan tak mengharapkanku lagi.

Mungkin aku bisa kehilangannya untuk sekarang, tapi di lain waktu aku ingin menemukan dirinya yang dulu kembali padaku.

What you need to know is to try and let it go....
What you need to find is someone who never let you go...