Saturday, 27 August 2016

DAY 5—THE REFUSE PROMISES


Maafkan jika kau kusayangi, dan bila kumenanti. [Yang Terdalam-Peterpan]

Hari ini aku sudah menelepon ibuku untuk menceritakan semua hal yang terjadi pada kisah cintaku—dan tebak apa tanggapan beliau tentang ini semua?

Ibuku tak banyak berkomentar, beliau hanya bertanya siapa yang memutuskan hubungan kami—dan ibuku bersyukur karena bukan aku yang mengakhirinya—entah kenapa. Ibuku pun berkata tak apa kami berpisah—padahal biasanya beliau yang paling tak ingin kami berpisah namun kali ini entah kenapa lagi beliau tak keberatan. Apakah ini tanda bahwa perpisahan kami didukung oleh alam?

Hari ini aku juga mengalah dengan menghubunginya terlebih dulu. Aku mengirim pesan padanya, bertanya apakah kami akan terus lost contact dan tak bisa menjadi teman—dan jawabannya bisa. Dan tak hanya itu, dia juga bilang kalau dia akan pulang kampung sore harinya. Padahal dulunya kami sudah berjanji akan pulang kampung bersama—dan ia berkata akan menunggu kontrak kerjaku benar-benar habis dan itu masih seminggu sejak hari ini. Dia mengingkari janjinya dengan mendahuluiku pulang, membiarkanku kelak pulang sendiri. Cikarang-jogja bukan jarak yang dekat bro—kami butuh dua belas jam naik bus. Aku harus menjalani perjalanan itu sendirian lagi, untuk kedua kalinya nanti. Aku sedih, sangat sedih. Yang lalu—aku pulang sendiri karena mendesak, ibuku sakit dan aku khawatir. Sedang sekarang—aku harus pulang sendiri karena dia egois tak mau menungguku lagi.

Aku jadi berpikir, apa aku memang tak pantas untuk ditunggu?

Sejak pemikiran itu bersemayam di hatiku, rasanya ada yang tak tenang. Hatiku merasa tak tentram. Membalas chatnya aku jadi harus berpikir dua kali, aku takut salah ucap dan membuatnya semakin menjauh. Serba salah. Aku ingin tak membalasnya, tapi aku takut kami kehilangan kontak lagi. Tapi saat aku membalasnya—aku merasa percakapan kami garing. Tapi tenang—bukannya aku hanya tinggal menunggunya mengabaikan pesan-pesanku? Karena ku yakin itu benar-benar akan terjadi.
Ah, rasanya aku sangat ingin menangis sekarang.

Kalau bukan karena aku berada di dekat temanku saat aku menuliskan semua omong kosong ini. Mungkin airmata ku sudah terjun dari persinggahannya. Hidupku menyedihkan sekali ya? Disaat aku dan temanku sama-sama baru saja putus cinta—namun kisah kami sangat lain. Dia dengan hebatnya punya lelaki yang selalu memperjuangkannya meski selalu ditampik—bodoh memang tapi aku menyukai caranya berkata “suatu saat aku akan melamarmu” meski gadisnya memilih untuk pergi. Jika aku memperjuangkan cintaku kali ini dan diabaikan juga—apakah aku sama bodohnya? Sudah sebodoh apa aku sekarang?

Apa aku sudah terlihat seperti gadis putus asa yang mendambakan lelakinya kembali?
Baiklah—aku menangis untuk pertama kalinya sejak kita putus malam ini. Bukan karena perpisahan kami, tapi karena dia meninggalkanku pulang saat disini aku masih kebingungan dengan hubungan kami. Apa dia mencoba kabur? Apa dia memang tak ingin bertemu denganku lagi? Apa dia memang sedang menghindariku?

Aku tak perlu mengunggah foto menangisku kan?

Kenapa kisahku senista ini? Haruskah aku menjadikannya ide untuk naskah wattpadku nanti?

Kenapa dia selalu menggampangkan janji yang dibuatnya sendiri? Janji untuk bertanggung jawab akan kehidupanku yang sudah dirusaknya, katanya melamarmu ada dalam rencana hidupnya—aku mungkin bodoh karena menganggap semua perkataannya menjadi janji. Tapi untuk beberapa hal aku benar-benar menganggap hal itu. Dan bukankah ucapan kita selalu dicatat oleh setiap malaikat? Bukankah saat kita berkata akan melakukan sesuatu dengan seseorang berarti kita memang sedang menebar janji pada orang itu, seperti kalimat aku akan mentraktirmu, mungkin?

Dan di pertemuan kita kedua sebelum terakhir, aku memintanya untuk berjanji tak menduakanku—setia padaku, dan tak ada yang lain selain aku. Dan ia mengiyakannya—dan aku tak bisa melupakan pertanyaannya ini, “Kenapa kau masih mau denganku? Padahal aku sendiri sedang jijik dengan diriku sendiri.”

Aku bahkan tak menjawabnya dengan kata, tapi kami berpelukan waktu itu.

Dan setelah mengingkari janji untuk terus bersama—kini dia mengingkari janjinya untuk pulang kampung bersamaku, dan apa nantinya ia akan mengingkari janjinya yang lain? Dia berjanji padaku untuk datang ke taman lampion saat pulang kampung bersama—tadinya. Tapi nanti saat kita berada di kota kelahiran kami—apakah janji itu akan terealisasikan apa juga akan hangus begitu saja bersama janji-janjinya yang lain?

Aku merasa pengingkaran janji ini seperti kebohongan, saat kita berbohong sekali—maka akan tercipta kebohongan lainnya. Dan saat ini—saat dia mengingkari satu janjinya, maka ia turut serta mengingkari janji-janjinya yang lain. Jadi bukankah tepat aku menuliskan judul untuk entriku kali ini? Janji-janji sampah! Bukankah seperti itu adanya?